BERITA TERKINI
Komunitas Vietnam di Jepang Nilai Dokumen Kongres Partai ke-14 Berorientasi pada Aksi

Komunitas Vietnam di Jepang Nilai Dokumen Kongres Partai ke-14 Berorientasi pada Aksi

Ketua Persatuan Asosiasi Vietnam di Jepang, Dr. Nguyen Hong Son, menyatakan apresiasinya terhadap dokumen-dokumen Kongres Nasional Partai Komunis Vietnam ke-14. Ia menilai dokumen tersebut tidak hanya memuat visi, tetapi juga menegaskan komitmen kuat pada “tindakan”.

Pernyataan itu disampaikan Dr. Nguyen Hong Son dalam wawancara dengan reporter VNA di Tokyo. Menurutnya, program aksi untuk mengimplementasikan Resolusi Kongres Nasional ke-14 merupakan sebuah “terobosan” karena setiap tujuan dan solusi dirancang secara praktis, disertai peta jalan serta fokus yang jelas. Ia menilai pendekatan ini sejalan dengan harapan masyarakat, termasuk warga Vietnam di luar negeri, karena dokumen Kongres tidak berhenti pada pedoman ideologis, melainkan menjadi cetak biru untuk pelaksanaan.

Dr. Nguyen Hong Son juga menyoroti penegasan Kongres Nasional ke-14 sebagai “kongres keyakinan dan aspirasi, terobosan dan aksi, disiplin dan kreativitas, persatuan dan pembangunan.” Ia memandang slogan tersebut mencerminkan semangat yang tegas dalam tujuan, inovatif dalam pemikiran pembangunan, menempatkan disiplin berdampingan dengan kreativitas, serta menjadikan persatuan nasional sebagai landasan pembangunan.

Bagi komunitas Vietnam di luar negeri, termasuk di Jepang, pesan itu dinilai penting karena Vietnam disebut memasuki “era kemajuan” dan setiap warga Vietnam, di mana pun berada, diajak berpartisipasi dalam aspirasi tersebut.

Dalam evaluasi masa jabatan ke-13, Dr. Nguyen Hong Son mencatat adanya kata kunci kompetensi, keberanian, keteguhan, dan ketegasan. Ia menilai, di tengah perubahan global yang cepat, kompleks, dan sulit diprediksi, kemampuan Vietnam menjaga stabilitas makroekonomi, mempertahankan pertumbuhan, memperluas hubungan luar negeri, dan meningkatkan posisi internasional menunjukkan kapasitas kepemimpinan serta kemampuan manajemen krisis. Menurutnya, hal itu menjadi landasan psikologis bahwa masa jabatan baru dimulai dari fondasi yang telah teruji, bukan dari nol.

Ia menambahkan, tujuan pembangunan periode 2026–2030 dan visi hingga 2045 menunjukkan “aspirasi besar dan langkah-langkah mantap”, termasuk target menjadi negara berkembang dengan industri modern dan berpendapatan menengah tinggi pada 2030, serta negara maju berpendapatan tinggi pada 2045. Ia menilai visi tersebut dikaitkan dengan terobosan strategis, model pertumbuhan baru, serta kebutuhan meningkatkan kualitas institusi, infrastruktur, dan sumber daya manusia, sehingga peta jalan jangka panjang menjadi lebih nyata.

Dr. Nguyen Hong Son menyimpulkan bahwa jika sebelum Kongres terdapat “harapan”, maka setelah Kongres, melalui dokumen dan hasil personel, banyak harapan itu telah dibentuk menjadi arahan, tujuan, dan solusi yang lebih spesifik. Namun, ia menekankan tantangan terbesar tetap pada implementasi, sejalan dengan penekanan Kongres untuk “kurangi bicara, perbanyak bertindak, dan selesaikan sampai akhir”.

Dari perspektif strategis, ia menilai salah satu poin baru yang penting adalah dokumen Kongres tidak hanya menjelaskan “apa” yang perlu dilakukan, tetapi juga “bagaimana” melakukannya, melalui program aksi, target kuantitatif, dan tenggat waktu yang jelas. Menurutnya, pendekatan berorientasi aksi ini mengubah visi menjadi komitmen konkret.

Ia juga menilai proses penyusunan dokumen dilakukan secara teliti, ilmiah, dan modern, dengan berangkat dari capaian masa lalu sekaligus berinovasi dalam pemikiran pembangunan, berpegang pada realitas, serta menghormati hukum objektif. Dokumen Kongres, menurutnya, menegaskan “rakyat sebagai pusat dan subjek” dari seluruh keputusan, dengan tujuan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga peningkatan kualitas hidup dan kebahagiaan rakyat.

Selain itu, Dr. Nguyen Hong Son menyoroti rangkuman pelajaran inti dalam dokumen yang dinilainya bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan berfungsi sebagai “filter” untuk memilih kebijakan di masa depan, sehingga bersifat teoritis sekaligus relevan dengan kehidupan nyata.

Menanggapi peran kepemimpinan dan bimbingan Partai sebagaimana ditunjukkan dalam Kongres Nasional ke-14, ia melihatnya dalam tiga aspek. Pertama, kemampuan memimpin dalam konteks baru ketika dunia mengalami perubahan cepat, mulai dari persaingan strategis antar kekuatan besar, transformasi digital, pergeseran rantai pasokan, perubahan iklim, hingga konflik regional. Dalam konteks ini, ia menilai definisi yang jelas mengenai model pertumbuhan baru—yang menekankan inovasi, ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi sirkular—serta penekanan pada kemandirian, swasembada, diversifikasi, dan multilateralisasi hubungan luar negeri menunjukkan visi strategis dan kapasitas orientasi yang kuat.

Kedua, ia menilai terdapat perpaduan antara “kehendak Partai dan aspirasi rakyat”. Proses penyusunan dokumen digambarkannya teliti dan ilmiah, sekaligus terbuka dan demokratis karena mendengarkan pendapat dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga Vietnam di luar negeri. Menurutnya, hal ini membangun perasaan bahwa diaspora Vietnam merupakan bagian dari proses pembuatan kebijakan.

Ketiga, ia menyoroti disiplin pelaksanaan melalui prinsip “berbicara lebih sedikit, berbuat lebih banyak, dan menyelesaikan sampai tuntas”. Kongres, menurutnya, menekankan inovasi metode kepemimpinan, penguatan disiplin dan ketertiban, pemberantasan korupsi dan praktik negatif, serta tanggung jawab memberi contoh dan akuntabilitas. Ia menilai, ketika warga Vietnam di luar negeri melihat perubahan substantif dalam tata kelola, pemberantasan korupsi, reformasi prosedur administrasi, serta lingkungan investasi dan bisnis, kepercayaan dapat berubah menjadi aset untuk mendorong komitmen, investasi, dan kerja sama jangka panjang dengan tanah air.

Bagi komunitas Vietnam di Jepang, ia menilai komitmen membangun negara berdasarkan hukum serta sistem pemerintahan yang modern, jujur, dan proaktif menjadi faktor penting. Menurutnya, hal itu memberi landasan bagi diaspora untuk menjelaskan jalur pembangunan Vietnam kepada mitra internasional, termasuk di Jepang, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa negara bergerak ke arah yang tepat.

Dr. Nguyen Hong Son menilai Kongres Nasional ke-14 juga membuka ruang baru bagi warga Vietnam di luar negeri, khususnya di Jepang, untuk berperan lebih mendalam. Dengan visi bahwa pada 2045 Vietnam menjadi negara maju berpenghasilan tinggi, ia menyebut hal ini bukan hanya tujuan Partai, melainkan perhatian bersama seluruh bangsa. Ia mendorong komunitas Vietnam di Jepang untuk beralih dari pola pikir “melihat ke tanah air” menjadi “mendampingi tanah air”, dengan sikap yang lebih proaktif, profesional, kohesif, disiplin, dan transparan.

Ia menyampaikan bahwa para ahli dan intelektual Vietnam di Jepang siap menyumbangkan kecerdasan serta pengalaman internasional untuk memberikan kritik kebijakan dan mengusulkan model baru kepada para pemimpin Partai dan Negara. Dalam pengembangan infrastruktur dan transformasi digital, komunitas ahli dan pengusaha Vietnam di Jepang disebut dapat menjadi jembatan bagi teknologi, modal, manajemen, dan standar internasional.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, ia menilai diaspora Vietnam di Jepang dapat berkontribusi melalui pelatihan, pembangunan jejaring, serta pengiriman mahasiswa, peneliti, dan insinyur muda untuk belajar dan magang di Jepang, sebelum kembali berkontribusi di Vietnam.

Menurut Dr. Nguyen Hong Son, apabila komunitas Vietnam di Jepang mampu memanfaatkan peluang yang dibuka Kongres Nasional ke-14—dengan visi strategis yang jelas, terobosan konkret, dan semangat tindakan yang tegas—mereka tidak hanya berperan sebagai “jembatan”, tetapi juga dapat menjadi “pilar lunak” dalam kekuatan keseluruhan bangsa pada jalur pembangunan baru.