SEMARANG — Pelaksanaan salat Idulfitri yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang pada Jumat (20/3/26) menyoroti isu kemanusiaan dan krisis sosial global. Seruan untuk menghentikan penindasan dan memperkuat solidaritas lintas negara menjadi tema yang mengemuka dalam sejumlah khutbah di berbagai lokasi.
Tahun ini, salat Idulfitri PDM Kota Semarang dilaksanakan secara serentak di 50 titik lokasi resmi. Sejumlah khutbah di antaranya menekankan bahwa ibadah Ramadan semestinya melahirkan empati sosial dan kepedulian terhadap penderitaan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Di Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, khatib Wahyudi yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah menyampaikan bahwa puasa harus berdampak pada tumbuhnya empati lintas negara. Ia mengingatkan jamaah agar tidak memaknai Idulfitri hanya sebagai kemenangan spiritual personal. “Kemenangan Idulfitri tidak akan sempurna selama kita menutup mata terhadap penindasan saudara kita di berbagai belahan dunia,” ujarnya di hadapan jamaah yang memadati halaman masjid.
Pesan serupa terdengar di Lapangan Taman Lansia RW 02 Rejomulyo, salah satu dari dua lokasi salat Idulfitri di Kecamatan Semarang Timur. Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Nurbini, mengangkat tema kembali suci di tengah dunia yang terluka. Ia menegaskan bahwa penderitaan korban konflik global merupakan tanggung jawab moral bersama. “Kita tidak bisa mengklaim diri kembali fitrah jika nurani kita mati melihat dunia yang sedang terluka parah,” katanya.
Sementara itu, di halaman Masjid Al Mujahidin Patriot, Semarang Utara, Juma’i menekankan urgensi keadilan sosial. Akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang tersebut menyerukan agar umat Islam menjadi pelopor keadilan di tengah masyarakat, serta memastikan ibadah ritual berdampak pada kesejahteraan publik. “Agama hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan yang tidak berkeadilan,” tegasnya.
Di lokasi lain, Sekretaris Umum PDM Kota Semarang, Suparno, menyampaikan khutbah di halaman Masjid Assalam Wonodri, Semarang Selatan. Dosen agama Universitas Diponegoro itu menitikberatkan pentingnya “memanusiakan manusia” sebagai tolok ukur keberhasilan ibadah Ramadan. “Bukti nyata suksesnya ibadah Ramadan adalah kemampuan kita memanusiakan manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari,” ujarnya.
Rangkaian khutbah di beberapa titik tersebut mencerminkan tema besar yang bergema dari pelaksanaan salat Idulfitri PDM Kota Semarang tahun ini. Pesan kemanusiaan, kepedulian terhadap krisis global, serta dorongan untuk menghadirkan keadilan sosial disebut sebagai nilai yang perlu terus dihidupkan setelah Ramadan.

