BANJARMASIN — Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di lingkungan Muhammadiyah Kota Banjarmasin berlangsung khidmat, disertai pesan keagamaan yang dikaitkan dengan tantangan zaman. Salah satu khutbah di halaman Masjid Al-Mukhlisin, Jalan Mangga, wilayah PCM Banjarmasin 9, mengangkat tema “Fitrah yang Membebaskan: Menghindari Israf dan Tabdzir di Tengah Ujian Zaman” yang disampaikan Dr. M. Arif Budiman, S.Ag., M.E.I.
Dalam khutbahnya, khatib mengajak jamaah memaknai Idul Fitri bukan semata perayaan setelah Ramadan, melainkan momentum kembali kepada fitrah—kondisi manusia yang bersih, jujur, dan seimbang. Ia menekankan bahwa keberhasilan menjalani Ramadan seharusnya tercermin dalam perubahan sikap dan gaya hidup setelahnya.
Pesan utama khutbah menyoroti pentingnya mengendalikan diri dari sikap berlebihan (israf) dan pemborosan (tabdzir), terutama di tengah tantangan modern. Khatib menyampaikan bahwa berbagai krisis yang terjadi saat ini—baik ekonomi, sosial, lingkungan, maupun global—tidak lepas dari perilaku manusia yang cenderung berlebihan dan sulit mengendalikan hawa nafsu.
Dalam bidang ekonomi, ia menilai sikap serakah dapat mendorong praktik tidak jujur seperti penipuan dan korupsi. Sementara dari sisi sosial, gaya hidup konsumtif disebut berpotensi memperlebar kesenjangan antarkelompok masyarakat. Adapun dalam konteks lingkungan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dipandang sebagai salah satu penyebab kerusakan alam dan bencana.
Khatib juga mengingatkan bahwa Islam telah memberikan pedoman untuk menghindari perilaku tersebut. Di antaranya dengan menanamkan kesadaran bahwa harta merupakan amanah, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan hidup sederhana dan bersyukur. Nilai qana’ah atau merasa cukup, serta kebiasaan bersedekah, disebut sebagai kunci menjaga keseimbangan hidup.
Di tengah maraknya budaya konsumtif dan fenomena pamer di media sosial (flexing), jamaah diajak kembali pada nilai kesederhanaan yang diajarkan Islam. Menurut khatib, kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah SWT.
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri tersebut tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga sarana refleksi untuk memperbaiki diri. Pesan yang disampaikan diharapkan menjadi bekal dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan ke depan.
Menutup khutbah, khatib mengajak jamaah mempertahankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari: hidup lebih sederhana, jujur, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan demikian, Idul Fitri diharapkan menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Usai shalat, suasana kebersamaan terlihat ketika jamaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan, menandai kembalinya fitrah dengan hati yang bersih dan harapan baru.

