Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi Syariah, KH Sholahudin Al Aiyub, menekankan pentingnya membangun ketahanan umat menghadapi krisis global dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah. Menurutnya, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadhan, tetapi juga momentum memperkuat kesiapan umat menghadapi berbagai tantangan zaman.
Dalam khutbahnya, ia menggambarkan Idul Fitri sebagai hari penuh syukur dan takbir yang menandai berakhirnya Ramadhan—bulan yang disebutnya sarat rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Ia mengingatkan bahwa takbir Idul Fitri bukan sekadar lantunan suara, melainkan pengakuan atas kemenangan ruhani. Ia mengutip QS Al-Baqarah ayat 185 tentang anjuran mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan bersyukur.
KH Sholahudin juga menegaskan bahwa Ramadhan melatih umat untuk menahan diri, memperkuat kesabaran, menumbuhkan empati, dan memperdalam ketergantungan kepada Allah. Namun, ia menilai pembelajaran Ramadhan tidak berhenti pada kesalehan individu, melainkan juga membentuk umat yang tangguh. Ia menyebut sejarah mengajarkan bahwa umat yang kuat bukanlah yang tidak pernah diuji, melainkan yang mampu mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Ia kemudian menyoroti situasi dunia yang disebutnya sedang mengalami dinamika besar: meningkatnya konflik antarnegara, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, gangguan rantai pasok global, kenaikan harga energi, meningkatnya inflasi, serta ketidakpastian ekonomi global. Ia menyebut kondisi semacam itu dalam teori ekonomi modern kerap disebut sebagai polycrisis, yakni krisis yang terjadi bersamaan di berbagai sektor.
Menurutnya, Islam sejak awal mengajarkan prinsip bersiap sebelum krisis datang. Ia merujuk QS Al-Anfal ayat 60 tentang perintah mempersiapkan kekuatan. Ia menafsirkan makna “kekuatan” dalam ayat tersebut secara luas, mencakup kekuatan ekonomi, sosial, ilmu, dan spiritual. Dari titik itu, ia mengajak jamaah merenungkan tiga pilar ketahanan umat untuk menghadapi masa depan.
Pilar pertama: ketahanan ekonomi umat
KH Sholahudin menempatkan ketahanan ekonomi sebagai fondasi penting. Ia mengaitkannya dengan konsep economic resilience yang dibahas para ekonom modern, yakni kemampuan masyarakat bertahan saat krisis ekonomi terjadi. Ia menyebut peraih Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz yang menjelaskan krisis global biasanya dipicu oleh ketimpangan distribusi kekayaan, spekulasi pasar berlebihan, dan lemahnya perlindungan sosial.
Ia menilai Islam telah memberi jawaban atas persoalan tersebut sejak lama. Ia mengutip QS Al-Hasyr ayat 7 yang menegaskan agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang kaya. Karena itu, ia menyebut instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf sebagai bagian dari sistem yang mendorong keadilan ekonomi. Ia juga mengutip pernyataan Imam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa tentang tegaknya negara yang adil dan runtuhnya negara yang zalim, yang ia maknai sebagai penegasan bahwa keadilan ekonomi menjadi syarat keberlangsungan masyarakat.
Dalam kerangka teori modern, ia menyebut pendekatan ini sejalan dengan gagasan inclusive economy. Sementara dalam istilah yang ia gunakan, Islam mengenal konsep ta’awun iqtishadi atau solidaritas ekonomi.
Ia lalu mengangkat kisah Utsman bin Affan saat krisis pangan di Madinah. Dikisahkan, Utsman memiliki kafilah dagang yang membawa ratusan unta berisi bahan makanan. Ketika para pedagang menawarkan keuntungan berlipat, Utsman menolak dan menyatakan ada yang memberi keuntungan lebih besar, yakni Allah. Ia mengutip QS Al-An’am ayat 160 tentang balasan kebaikan sepuluh kali lipat, lalu menyebut seluruh bahan makanan itu disedekahkan kepada masyarakat Madinah. Ia menggambarkan praktik tersebut sebagai ketahanan ekonomi berbasis iman, yang dalam istilah modern kerap disebut philanthropic economy.
Pilar kedua: memperkuat kohesi sosial
Pilar berikutnya, menurut KH Sholahudin, adalah memperkuat kohesi sosial atau social cohesion. Ia menilai kekuatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekayaan, tetapi juga oleh modal sosial atau social capital. Ia menyebut ilmuwan Harvard University Robert Putnam yang menekankan pentingnya kepercayaan sosial, solidaritas masyarakat, dan jaringan kerja sama sebagai ciri negara yang kuat.
Dalam perspektif Islam, ia menyebut konsep ini sebagai ukhuwah. Ia mengutip QS Al-Hujurat ayat 10 tentang persaudaraan orang beriman, serta hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang mengibaratkan hubungan antar-mukmin seperti bangunan yang saling menguatkan. Ia juga menyebut pemikiran Ibn Khaldun tentang ‘ashabiyyah—solidaritas sosial sebagai kekuatan peradaban—dengan kutipan bahwa peradaban tidak akan tegak tanpa solidaritas sosial.
Ia mencontohkan peristiwa hijrah kaum Muhajirin dari Mekah ke Madinah yang datang tanpa harta, lalu dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dengan kaum Anshar. Salah satu riwayat yang ia sebut adalah persaudaraan Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad menawarkan separuh hartanya, namun Abdurrahman memilih meminta ditunjukkan lokasi pasar. Dalam waktu singkat, Abdurrahman disebut menjadi pedagang sukses. Ia menyebut peristiwa itu sebagai contoh awal ekonomi kolaboratif.
Pilar ketiga: spiritualitas dan ketahanan mental
Pilar ketiga yang ditekankan adalah penguatan spiritualitas dan ketahanan mental. Ia mengaitkannya dengan konsep psikologi modern tentang resilience, yakni kemampuan bangkit dari krisis. Ia menyebut temuan para ahli psikologi bahwa faktor terbesar yang membuat manusia kuat menghadapi krisis adalah makna hidup, harapan, dan spiritualitas.
Ia menegaskan Islam menyediakan ketiga aspek tersebut, salah satunya melalui dzikir. Ia mengutip QS Ar-Ra’d ayat 28 tentang hati yang menjadi tenang dengan mengingat Allah, serta pernyataan Imam Ibn Qayyim bahwa dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali dengan mengingat Allah.
Untuk menegaskan peran spiritualitas dalam sejarah, ia menyampaikan kisah doa Rasulullah SAW pada malam sebelum Perang Badar. Ia menyebut Rasulullah berdoa dengan tangis memohon pertolongan Allah, lalu mengutip QS Al-Anfal ayat 9 tentang dikabulkannya permohonan itu melalui bantuan seribu malaikat. Ia menilai kekuatan spiritual kerap menjadi titik balik dalam perjalanan umat.
Di bagian penutup khutbah pertama, KH Sholahudin menyimpulkan bahwa Ramadhan melatih umat melalui lapar agar peduli kepada fakir miskin, sabar agar kuat menghadapi ujian, zakat agar ekonomi umat berputar, serta qiyamul lail agar hati dekat kepada Allah. Ia menggambarkan Ramadhan sebagai program pelatihan tahunan bagi ketahanan umat. Menurutnya, jika umat kuat secara ekonomi, solidaritas, dan spiritualitas, maka krisis apa pun tidak mudah meruntuhkannya. Ia juga mengutip pernyataan Imam Hasan Al-Bashri bahwa dunia adalah tempat ujian, sedangkan akhirat tempat balasan.
Ia menutup dengan harapan agar kemenangan Idul Fitri tercermin dalam menguatnya iman, eratnya solidaritas, dan meningkatnya kepedulian sosial. Ia berdoa agar Allah menjaga negeri dari berbagai krisis, menguatkan persatuan, dan menjadikan umat mampu menghadapi setiap ujian zaman.
Pada khutbah kedua, ia melanjutkan dengan ajakan bertakwa, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta memanjatkan doa untuk kaum Muslimin dan Muslimat, keselamatan negeri, dan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan. Khutbah ditutup dengan pembacaan ayat tentang perintah berlaku adil dan berbuat kebajikan.

