BERITA TERKINI
Ketegangan Timur Tengah Meluas: Selat Hormuz Tersendat, Laut Merah Ikut Jadi Titik Panas Jalur Energi

Ketegangan Timur Tengah Meluas: Selat Hormuz Tersendat, Laut Merah Ikut Jadi Titik Panas Jalur Energi

Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berisiko, dengan dampak yang meluas ke sejumlah jalur vital distribusi energi dunia. Jika sebelumnya perhatian tertuju pada Selat Hormuz, situasi kini merembet ke Laut Merah, memperluas peta konflik dan menambah ketidakpastian bagi arus perdagangan energi global.

Serangan terhadap kapal-kapal komersial pada Maret 2026 membuat jalur di Selat Hormuz nyaris tidak bisa dilalui kapal tanker. Kondisi tersebut berdampak langsung pada distribusi minyak yang tersendat dan memicu gejolak di pasar energi global.

Di tengah tekanan itu, produsen minyak mencari jalur alternatif untuk menjaga arus pasokan tetap berjalan. Laut Merah kemudian digunakan sebagai rute darurat, meski langkah ini juga diiringi risiko baru.

Saudi Aramco mengonfirmasi pengalihan pengiriman dengan menyalurkan jutaan barel minyak mentah melalui jaringan pipa menuju pelabuhan Yanbu di pesisir barat Arab Saudi, yang terhubung langsung dengan Laut Merah. Dalam kondisi normal, pengiriman minyak dilakukan melalui Teluk Persia dan melintasi Selat Hormuz, namun jalur tersebut kini mulai ditinggalkan sementara karena situasi yang tidak memungkinkan.

Namun, data dari Kpler menunjukkan rute alternatif melalui Laut Merah juga mulai terancam seiring meluasnya konflik di kawasan. Perkembangan ini memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pengganti tidak sepenuhnya aman untuk menopang distribusi energi.

Laut Merah pun berubah menjadi titik panas baru. Pada Senin (17/3/2026), Iran menyebut fasilitas angkatan laut Amerika Serikat di Laut Merah sebagai target potensial. Komando militer terpadu Iran menilai keberadaan kapal induk AS Gerald R. Ford di kawasan tersebut sebagai ancaman bagi negaranya, menandakan meningkatnya tensi di jalur yang sebelumnya dipakai sebagai rute darurat.

Kepala Ekonom Iklim dan Komoditas Capital Economics, David Oxley, juga mengingatkan bahwa kawasan tersebut telah lama tidak stabil, bahkan sebelum perang pecah pada Sabtu (28/2/2026). Sejak akhir 2023, kelompok militan Houthi yang didukung Iran telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah sebagai respons atas konflik Israel melawan Hamas. Serangkaian serangan itu mendorong banyak perusahaan pelayaran menghindari jalur tersebut.

Dengan Selat Hormuz yang tersendat dan Laut Merah yang ikut memanas, tekanan terhadap jalur energi global kian meningkat. Situasi ini menambah tantangan bagi produsen dan pelaku pelayaran dalam menjaga kelancaran distribusi di tengah konflik yang terus berkembang.