BERITA TERKINI
Ketegangan Iran-AS Picu Kekhawatiran Krisis Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Energi Global

Ketegangan Iran-AS Picu Kekhawatiran Krisis Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Energi Global

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat dan memunculkan kekhawatiran baru di pasar energi global. Situasi ini dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas, terutama jika konflik berlanjut dan berdampak pada Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi dunia.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sikap keras terhadap Iran dan menyebut kesiapan untuk berperang dalam waktu yang lama. Di tengah eskalasi tersebut, ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi salah satu skenario yang paling dikhawatirkan karena dapat mengguncang pasokan energi internasional.

Analis Bob McNally memperkirakan, jika penutupan Selat Hormuz terjadi hanya selama beberapa hari, harga minyak mentah dapat melonjak hingga sekitar 100 dolar AS per barel, sementara harga gas bisa mencapai 4 dolar AS per galon. Perkiraan ini menegaskan sensitivitas pasar energi terhadap gangguan di kawasan Timur Tengah.

Sebagai perbandingan, harga minyak dilaporkan telah naik ke level 77 dolar AS seiring meningkatnya intensitas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Lonjakan harga minyak di atas 100 dolar AS terakhir kali terjadi pada 2022, saat Rusia melancarkan invasi ke Ukraina. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, lonjakan harga dinilai berpotensi melampaui perkiraan awal dan menekan perekonomian global, terutama negara-negara yang bergantung pada impor minyak.

Merespons risiko tersebut, Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mengawal kapal tanker minyak yang melintasi kawasan Selat Hormuz. Ia menegaskan Amerika Serikat akan memastikan kelancaran arus energi dunia. Langkah ini dipandang dapat membantu meredam kepanikan pasar, namun juga dinilai membawa risiko meningkatnya potensi bentrokan militer dan memperpanjang ketegangan di kawasan.

Di sisi lain, sejumlah negara pengimpor minyak mulai menyiapkan langkah antisipasi. India, misalnya, disebut hanya memiliki persediaan minyak mentah untuk 25 hari ke depan. Pemerintah India dilaporkan mencari sumber alternatif untuk mengimpor minyak mentah, LPG, dan LNG guna mengantisipasi kelangkaan pasokan. Meski demikian, pemerintah India menegaskan belum ada rencana menaikkan harga bensin dan solar dalam waktu dekat.

Kondisi ini menyoroti kerentanan negara-negara dengan cadangan energi terbatas terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama, risiko krisis pasokan dinilai dapat meningkat dan mendorong kenaikan harga di pasar domestik. Ketidakpastian juga disebut berdampak ke sektor lain, termasuk pasar keuangan dan aset kripto yang kerap mengalami volatilitas saat terjadi krisis global.

Dengan risiko yang membesar, situasi di Selat Hormuz menempatkan dunia pada posisi rentan terhadap gejolak harga minyak dan gas. Sejumlah pihak menilai upaya diplomasi dan kerja sama internasional menjadi penting untuk mencegah krisis energi yang lebih luas, sekaligus menekan ketidakpastian yang dapat berkepanjangan.