BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasokan, Dunia Kembali Menguji Ketahanan Energi

Ketegangan di Selat Hormuz Guncang Pasokan, Dunia Kembali Menguji Ketahanan Energi

Lonjakan konflik di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia—dilaporkan telah mengganggu distribusi energi secara signifikan.

Sejumlah kapal disebut terblokir, bahkan terbakar, sehingga jalur vital tersebut praktis lumpuh. Dampaknya segera terasa di pasar: harga minyak dan gas melonjak tajam, memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta potensi perlambatan ekonomi.

Badan Energi Internasional (IEA) menilai situasi ini sebagai “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.” Pernyataan itu muncul di tengah krisis yang belum menunjukkan tanda mereda.

Kondisi tersebut memperkuat seruan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi bersih. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan energi bersih sebagai jalan keluar jangka panjang, dengan menekankan bahwa sumber energi di era energi bersih “tidak bisa diblokade atau dijadikan senjata.”

Sejumlah pemerintah merespons dengan langkah kebijakan. Uni Eropa mengumumkan rencana investasi energi bersih senilai €75 miliar. Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut krisis ini sebagai pelajaran penting tentang perlunya kemandirian energi.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa transisi energi tidak dapat menjadi solusi instan untuk gejolak pasokan. Chris Wright, analis utama di Carbon Bridge, menilai energi terbarukan memang berkembang pesat, namun belum mampu sepenuhnya menggantikan peran bahan bakar fosil dalam waktu dekat.

Menurutnya, pemanfaatan energi terbarukan untuk listrik merupakan langkah awal yang penting, tetapi menggantikan bahan bakar fosil di seluruh sektor ekonomi dinilai belum realistis dalam jangka menengah.

Saat ini, energi terbarukan disebut telah menyumbang sekitar sepertiga produksi listrik global, sementara biaya energi surya dilaporkan turun lebih dari 90 persen sejak 2010. Namun ketergantungan pada minyak dan gas masih kuat di sektor-sektor lain, termasuk transportasi, industri, dan pertanian.

Gas masih menjadi tulang punggung industri, sedangkan minyak tetap dominan dalam transportasi—mulai dari pengiriman barang, pelayaran, hingga penerbangan. Direktur Program Timur Tengah di Defence Priorities, Rosemary Kelanic, menilai tantangan terbesar ada di sektor transportasi.

Kelanic menyebut selama puluhan tahun minyak tidak memiliki pengganti nyata di sektor tersebut. Kehadiran kendaraan listrik dinilai mulai mengubah situasi, tetapi laju adopsinya belum cukup cepat untuk mengimbangi ketergantungan yang sudah mengakar.

Di tengah ketidakpastian pasokan, krisis di Selat Hormuz juga menyoroti perbedaan tingkat ketahanan antarnegara. Negara yang lebih terdiversifikasi sumber energinya serta memiliki adopsi kendaraan listrik lebih tinggi disebut menunjukkan ketahanan lebih baik terhadap guncangan pasokan.