Kenaikan harga minyak dan gas di tengah dinamika geopolitik global mulai menekan industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia. Kondisi ini dinilai berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama melalui kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur energi dunia disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga energi. Dampaknya merembet ke industri petrokimia yang memproduksi bahan baku plastik, komponen utama kemasan AMDK, sehingga biaya produksi industri ikut meningkat.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri AMDK memiliki peran strategis dalam menopang sektor manufaktur nasional. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional disebut mencapai sekitar 1,04 persen dan menjadi bagian penting dari industri makanan dan minuman nonmigas.
Agus juga menyebut industri AMDK menyerap sekitar 46 ribu tenaga kerja langsung. Kapasitas produksinya mencapai 47 miliar liter per tahun yang dihasilkan dari lebih dari 700 pabrik di Indonesia, dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Selain tekanan dari sisi produksi, pelaku industri juga menghadapi kenaikan biaya distribusi akibat kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL) yang ditargetkan berlaku penuh pada 2027. Dengan pembatasan tersebut, kapasitas angkut menurun dan frekuensi perjalanan logistik meningkat, yang pada akhirnya menambah beban biaya distribusi.
Pengamat politik ekonomi Andreas Ambesa menilai situasi ini menciptakan tekanan ganda bagi industri AMDK karena kenaikan biaya produksi dan distribusi terjadi secara bersamaan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga jual produk di tingkat konsumen.
“Pelaku industri berada dalam dilema klasik: menjaga keberlanjutan usaha atau mempertahankan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujar Andreas.
Ia menambahkan industri AMDK sensitif terhadap perubahan biaya logistik dan energi karena memiliki jaringan distribusi yang luas. Jika tidak ada langkah mitigasi, tekanan biaya dikhawatirkan berdampak pada inflasi, terutama karena AMDK telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat perkotaan.
Andreas juga menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebijakan jangka panjang dan kondisi industri di lapangan. Menurutnya, tanpa sinkronisasi kebijakan dan dukungan terhadap sektor strategis, tekanan global dan domestik berpotensi mengganggu stabilitas industri AMDK dalam jangka panjang.