Diplomasi kerap dipersepsikan sebagai pertemuan formal di balik meja perundingan dengan protokol yang kaku. Namun, Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Ani Nigeriawati menilai diplomasi jauh lebih luas dari urusan politik dan dokumen perjanjian, melainkan sebuah “seni” yang bertumpu pada pendekatan manusiawi.
Dalam bincang santai di kanal YouTube Abdel Achrian, Ani mengatakan wajah diplomasi Indonesia saat ini sangat dipengaruhi kekuatan soft power. Pendekatan ini mengedepankan pengaruh melalui budaya, komunikasi, serta daya tarik bangsa untuk membangun relasi dengan masyarakat internasional.
Menurut Ani, inti diplomasi adalah membangun kepercayaan bersama atau mutual trust. Kepercayaan itu, kata dia, tidak cukup dibentuk lewat pernyataan resmi, melainkan melalui interaksi yang menyentuh sisi kemanusiaan.
“Diplomasi itu adalah sebuah seni, profesi, sekaligus proses jangka panjang. Manfaatnya mungkin tidak langsung terasa hari ini, tapi ia membangun fondasi agar bangsa lain menaruh hormat dan percaya pada kita,” ujar Ani.
Ani mencontohkan pemanfaatan kekayaan budaya Indonesia—mulai dari kuliner, fesyen, hingga musik—sebagai sarana untuk mendekatkan Indonesia dengan publik global. Ia juga menyinggung program seperti beasiswa seni dan budaya bagi pemuda asing yang diharapkan dapat melahirkan “duta-duta” baru yang membawa cerita positif tentang Indonesia di negara asal mereka.
Ia menjelaskan, salah satu tugas utama Direktorat Diplomasi Publik adalah membumikan diplomasi agar lebih dipahami masyarakat luas. Ani menilai diplomasi tidak hanya dilakukan oleh pejabat negara, tetapi juga oleh pelaku seni, atlet, hingga mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri.
“Pesan kita harus memiliki resonansi. Bukan hanya didengar dan dipahami, tapi juga diterima oleh audiens internasional,” katanya.
Gagasan diplomasi sebagai seni juga ia praktikkan secara personal. Ani aktif dalam The Diplomats Band, wadah bagi para diplomat untuk menyalurkan bakat musik. Baginya, musik merupakan bahasa universal yang dapat mencairkan suasana, termasuk dalam lingkungan diplomatik yang sering kali formal.
Dengan pendekatan yang lebih dinamis dan humanis, Ani menyatakan optimistis citra Indonesia dapat semakin kuat melalui pesona budaya dan kemahiran dalam “seni” berdiplomasi, bukan lewat paksaan politik.

