Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman membuka peluang lanjutan dialog, setelah pertemuan yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Istanbul. Perundingan tersebut tidak berujung pada ketegangan baru maupun aksi militer, dan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut sebagai pembentukan “framework for future talks” atau kerangka untuk pembicaraan berikutnya.
Perkembangan ini memunculkan rasa lega di tengah kekhawatiran bahwa situasi sebelumnya telah mendekati titik berbahaya. Pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Teluk, ditambah kecemasan Israel terhadap kemampuan strategis Iran, sempat menimbulkan dugaan bahwa diplomasi dapat runtuh sebelum benar-benar berjalan. Dalam konteks ini, Oman kembali tampil sebagai mediator yang relatif dapat diterima kedua pihak, sebagaimana terjadi dalam sejumlah episode diplomasi sebelumnya.
Meski demikian, jalur dialog ini belum dapat dibaca sebagai terobosan besar. Rekam jejak hubungan AS–Iran menunjukkan bahwa setiap putaran perundingan kerap berada di antara harapan dan kecurigaan. Pertemuan di Oman lebih menyerupai jeda strategis yang memberi ruang bagi kedua pihak untuk menahan eskalasi, ketimbang tanda bahwa kesepakatan besar sudah dekat.
Dalam dinamika perundingan nuklir, Iran dikenal memanfaatkan strategi memperpanjang negosiasi untuk menjaga posisi tawarnya. Dengan tetap berada di meja perundingan, Teheran dapat memberi sinyal keterbukaan terhadap kompromi tanpa segera mengambil keputusan final yang berpotensi mempersempit ruang manuvernya. Pendekatan ini dinilai memberi keuntungan berupa meredakan tekanan internasional serta menghindari sanksi baru dalam jangka pendek, sekaligus menyediakan waktu untuk konsolidasi internal dan penguatan kapasitas teknologi.
Dari sudut pandang Washington dan Tel Aviv, kekhawatiran tidak hanya tertuju pada isu nuklir. Kemajuan program rudal balistik Iran dipandang sebagai faktor yang sama sensitifnya karena berkaitan dengan kemampuan proyeksi kekuatan di tingkat regional. Israel memandang rudal balistik berjangkauan jauh sebagai ancaman serius, sementara AS menilai perkembangan tersebut dapat mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan meningkatkan risiko konflik yang melibatkan sekutu-sekutunya.
Perbedaan kepentingan itulah yang membuat setiap kemungkinan kesepakatan berpotensi menguji kesabaran. Iran menuntut pengakuan atas hak pengembangan teknologi nuklir sipil serta pencabutan sanksi yang signifikan. Di sisi lain, AS menginginkan pembatasan ketat disertai mekanisme verifikasi yang agresif. Tarik-menarik ini membuat proses diplomasi cenderung berjalan lambat dan berlapis, terutama karena kedua pihak juga menghadapi tekanan politik domestik dan tidak ingin terlihat mengalah.
Dalam jangka panjang, arah geopolitik kawasan akan dipengaruhi oleh kemampuan dialog ini untuk berkembang menjadi kesepakatan yang stabil. Jika berhasil, kawasan berpeluang memasuki fase de-eskalasi terbatas. Namun jika gagal, siklus ketegangan lama dapat kembali dengan intensitas lebih tinggi. Di tengah situasi tersebut, Oman bukan hanya menjadi lokasi pertemuan, melainkan juga simbol bahwa ruang diplomasi masih tersedia—meski sempit—di tengah rivalitas yang keras.

