Kekalahan 0-4 tim U23 China dari Jepang U23 di final Kejuaraan Asia U23 2026 memunculkan sorotan tajam terhadap keterbatasan mereka. Jurnalis Li Chengbang menilai hasil tersebut bukan kejutan atau sekadar akibat momen-momen yang tidak menguntungkan, melainkan gambaran akurat posisi China saat ini dalam peta sepak bola usia muda Asia: kurang terorganisir, kalah tempo, dan mengalami masalah yang bersifat sistemik.
Sepanjang 90 menit pertandingan, Jepang disebut tampil dominan dengan mengendalikan jalannya laga. Tim berseragam biru itu aktif menguasai bola, mengatur tempo, dan menjalankan gaya bermainnya secara konsisten. Mereka menjaga jarak antarlini dengan rapi, melakukan pressing efektif, serta cepat merebut kembali bola setiap kali kehilangan penguasaan di area yang menguntungkan.
Di sisi lain, U23 China lebih banyak dipaksa bertahan dalam dan cenderung bermain reaktif. Perbedaan itu tidak hanya terlihat secara kasatmata, tetapi juga tercermin dalam statistik: Jepang unggul dalam penguasaan bola, menciptakan lebih banyak peluang, dan lebih sering menembus area penalti.
Serangan China dinilai kurang mampu mencapai zona berbahaya. Banyak percobaan mereka datang dari luar kotak penalti atau dari posisi yang tidak menguntungkan, sehingga peluang mencetak gol menjadi sangat kecil.
Tempo menjadi faktor pembeda berikutnya. Jepang mampu mempertahankan intensitas tinggi sepanjang pertandingan, ditopang sirkulasi bola cepat dan pergerakan tanpa bola yang efektif. China disebut hanya mampu mengimbangi dalam periode singkat sebelum akhirnya menurun. Memasuki babak kedua, akurasi umpan mereka menurun dan kesalahan meningkat, yang menggambarkan tekanan fisik dan mental yang mereka hadapi.
Gol-gol yang bersarang ke gawang China juga dinilai mengikuti pola yang berulang, terutama saat fase transisi. Menurut penilaian tersebut, keraguan sesaat dapat langsung membuka celah yang kemudian dimanfaatkan lawan. Masalah ini dipandang bukan semata kesalahan individu, melainkan kegagalan tim menjaga struktur permainan ketika menghadapi lawan dengan intensitas tinggi.
Li Chengbang juga mengaitkan kesenjangan di lapangan dengan perbedaan fondasi di luar lapangan. Pelatih U23 China disebut menyatakan skuad turnamen dipilih dari sekitar 500 pemain di seluruh negeri. Angka ini dianggap menggambarkan sempitnya basis kompetisi. Dalam pandangan itu, sepak bola level atas bukan hanya soal memilih 11 pemain terbaik, melainkan hasil dari piramida pembinaan yang luas dan kompetitif.
Sebagai pembanding, tim U23 Jepang disebut terbentuk dari sekitar 1 juta pemain dalam sistem sepak bola usia muda mereka. Basis yang besar tersebut menjadi landasan seleksi ketat untuk setiap posisi. Bahkan ketika sebagian pemain masih berkuliah atau ada yang bermain di Eropa, struktur tim dinilai tetap berjalan karena peran dan pola permainan sudah tertanam.
Perbedaan ini, menurutnya, menunjukkan sepak bola Jepang tidak bergantung pada satu bintang, melainkan pada sistem dan gaya bermain yang konsisten dari level junior hingga tim nasional. Sementara itu, U23 China dinilai masih kerap bergantung pada usaha individu. Ketika lawan menaikkan tempo, sistem permainan mereka disebut cepat runtuh.
Di tengah berbagai komentar yang menekankan semangat, intensitas, dan kontak fisik, Li Chengbang menilai sepak bola modern tidak ditentukan oleh slogan. Ia menekankan pentingnya taktik, organisasi tim, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi sulit sebagai ukuran yang lebih akurat. Membenarkan kekalahan dengan detail kecil dinilai hanya mengaburkan akar persoalan.
Kekalahan di final ini juga disebut memperlihatkan kesalahpahaman bahwa populasi besar otomatis menghasilkan tim kuat. Menurut pandangan tersebut, yang menentukan adalah jumlah pemain yang benar-benar terlibat dan kualitas lingkungan latihan. Jika sepak bola bukan pilihan populer sejak dini dan jalur karier di olahraga ini tidak cukup luas atau aman, basis pemain akan tetap terbatas terlepas dari ukuran populasi.
Meski demikian, pencapaian U23 China menembus final tetap dinilai sebagai langkah maju. Namun, mencapai puncak kompetisi juga memperjelas jarak kemampuan yang masih ada. Bagi Li Chengbang, kekalahan 0-4 ini bukan akhir, melainkan pengingat tentang posisi sepak bola usia muda China saat ini dan mengapa kemenangan-kemenangan individual tidak cukup menutup kesenjangan jangka panjang. Selama fondasi dan sistem tidak berubah, ia menilai hasil serupa berpotensi terulang.

