BERITA TERKINI
Inflasi Indonesia 2,3% pada Agustus 2025, Termasuk Rendah di Kelompok G20

Inflasi Indonesia 2,3% pada Agustus 2025, Termasuk Rendah di Kelompok G20

Tingkat inflasi menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah perekonomian suatu negara. Dalam konteks global, inflasi juga masih menjadi persoalan mendesak, terlihat dari perbedaan laju kenaikan harga yang cukup lebar di antara negara-negara anggota G20.

Berdasarkan data inflasi bulanan negara-negara G20 yang dihimpun dari kantor statistik nasional masing-masing negara dan divisualisasikan oleh Aneesh Anand, angka pada Agustus 2025 menunjukkan divergensi yang masih berlanjut. Sejumlah negara masih menghadapi lonjakan harga konsumen, sementara negara lain justru bergulat dengan tekanan deflasi.

Dalam data tersebut, inflasi tertinggi tercatat di Argentina dan Turki, masing-masing sebesar 33,6% dan 33% secara tahunan (year-on-year/YoY). Rusia berada di 8,1%, Brasil 5,1%, dan Inggris 3,8%. Sementara itu, inflasi Indonesia tercatat 2,3%, lebih rendah dibanding Jepang yang berada di 2,7%. China menjadi satu-satunya anggota G20 yang berada di wilayah deflasi, dengan inflasi -0,4%.

Argentina menempati posisi teratas dalam daftar inflasi G20, meski terdapat indikasi perlambatan. Inflasi bulanan pada Agustus dilaporkan datar di 1,9%, yang disebut sebagai kenaikan bulanan terendah sejak 2022 dan melambat dibandingkan awal tahun. Namun, dampak dari pengelolaan ekonomi selama bertahun-tahun, kontrol mata uang, serta pelemahan peso dinilai masih meninggalkan efek berkepanjangan.

Turki juga masih mencatat inflasi tinggi sebesar 33%, didorong kenaikan biaya makanan, energi, dan perumahan. Kebijakan bank sentral yang memangkas suku bunga di tengah inflasi menuai kritik, sementara kenaikan harga konsumen pada Agustus dilaporkan lebih tinggi dari perkiraan. Pelemahan lira turut memperburuk inflasi dengan meningkatkan biaya impor, dan tekanan inflasi disebut berpotensi berlanjut tanpa perubahan kebijakan ekonomi yang lebih tegas.

Di sisi lain, China menonjol karena mengalami deflasi. Harga konsumen turun 0,4% secara tahunan pada Agustus, yang mencerminkan melemahnya permintaan domestik. Kondisi ini dikaitkan dengan tantangan ekonomi yang lebih luas, termasuk menyusutnya populasi usia kerja, penurunan angka kelahiran, dan percepatan penuaan penduduk.

Selain faktor demografi, perlambatan sektor real estat juga menjadi sorotan. Sektor yang diperkirakan menyumbang hingga 30% dari PDB tersebut menghadapi penurunan berkepanjangan, ditandai penurunan harga rumah dan gagal bayar pengembang, yang berkontribusi pada melemahnya kepercayaan investor dan rumah tangga. Deflasi dipandang dapat mencerminkan persoalan struktural, mulai dari ketergantungan pada pertumbuhan berbasis investasi, meningkatnya utang pemerintah daerah, hingga tantangan transisi menuju ekonomi yang lebih didorong konsumsi.

Secara global, laju inflasi tidak merata. Di Amerika Serikat, inflasi tercatat 2,9% dan disebut sebagai yang tertinggi sejak Januari. Jepang (2,7%) dan Zona Euro (2,0%) berada di sekitar target bank sentral. Kanada (1,9%) dan Korea Selatan (1,7%) termasuk yang terendah.

Di tengah perbedaan kondisi antarnegara, inflasi Indonesia yang berada di 2,3% menempatkannya dalam kelompok dengan laju kenaikan harga yang relatif rendah di G20. Pemantauan inflasi tetap penting karena kenaikan harga berpengaruh terhadap anggaran rumah tangga, tabungan, dan investasi melalui penurunan daya beli, serta berdampak pada perekonomian yang lebih luas lewat pengaruhnya terhadap konsumsi, profitabilitas bisnis, dan biaya barang serta jasa. Inflasi yang stabil dan rendah dapat mendukung kepastian ekonomi, sementara inflasi tinggi atau tidak terduga dapat meningkatkan ketidakpastian dan memengaruhi kelompok berpendapatan tetap.