SINGAPURA — Impor minyak mentah Asia diproyeksikan mencapai rekor tertinggi baru pada Februari 2026 seiring lonjakan permintaan di kawasan. Namun, dinamika geopolitik turut mengubah strategi pembelian dua importir utama, China dan India, yang mengambil arah berbeda: China meningkatkan pembelian minyak Rusia, sementara India disebut berpaling ke Arab Saudi di bawah tekanan Amerika Serikat (AS).
Data dari analis komoditas Kpler memperkirakan impor minyak mentah Asia akan mencapai 28,51 juta barel per hari (bph) pada Februari 2026. Angka tersebut naik dibandingkan 27,48 juta bph pada Desember dan 26,22 juta bph pada Januari, terutama didorong oleh permintaan dari China dan India yang merupakan pengimpor minyak terbesar dan ketiga terbesar di dunia.
Di China, impor minyak Rusia diproyeksikan mencetak rekor sekitar 2,07–2,08 juta bph pada Februari, meningkat dari sekitar 1,7 juta bph pada Januari, berdasarkan data Vortexa dan Reuters. Kenaikan ini dikaitkan dengan kilang-kilang independen China yang dikenal sebagai “teapots”, yang memanfaatkan diskon minyak Rusia sekitar USD8–11 per barel di bawah patokan ICE Brent sehingga dinilai lebih kompetitif dibandingkan pasokan dari sumber lain.
“Bagi teapots, minyak Rusia tampak lebih dapat diandalkan sekarang karena ada kekhawatiran tentang pemuatan minyak Iran di tengah ancaman konflik militer,” kata Emma Li, analis China di Vortexa, kepada Reuters, Kamis (19/2/2026).
Sementara itu, Arab Saudi juga memperkuat posisinya di pasar China setelah menurunkan harga jual resmi minyaknya ke level terendah dalam lebih dari lima tahun. Perusahaan energi Aramco memangkas harga Arab Light untuk pengiriman Maret menjadi setara dengan patokan Oman/Dubai, yang mendorong pesanan dari kilang-kilang China.
Menurut data Bloomberg, pesanan minyak Saudi oleh kilang China diperkirakan mencapai 56–57 juta barel, naik dari sekitar 48 juta barel pada Februari.

