Pemerintah Amerika Serikat mengkritik minimnya pengawasan terhadap pengembangan nuklir China. Washington menilai Beijing tengah memperluas persenjataan nuklirnya secara drastis dan dilakukan tanpa transparansi.
Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, Christopher Yeaw, mengatakan China mengembangkan senjata nuklir dengan cepat dan tidak terbuka. “China telah secara sengaja dan tanpa pembatasan memperluas arsenal nuklirnya secara besar-besaran tanpa transparansi atau kejelasan tujuan akhirnya,” ujar Yeaw, seperti dikutip dari South China Morning Post.
Yeaw juga menyebut China berpotensi mencapai paritas nuklir dalam empat hingga lima tahun mendatang, meski ia tidak menjelaskan lebih lanjut definisi paritas yang dimaksud. Ia menambahkan, Beijing diperkirakan dapat memiliki lebih dari seribu hulu ledak nuklir pada 2030.
“Beijing berada di jalur untuk memiliki bahan fisil yang cukup bagi lebih dari seribu hulu ledak nuklir pada 2030,” kata Yeaw.
Dalam pernyataannya, Yeaw turut menyinggung berakhirnya perjanjian New START. Ia mengatakan berakhirnya perjanjian tersebut bukan karena AS tidak ingin membatasi pengembangan senjata nuklir, melainkan karena Washington menginginkan kesepakatan baru yang lebih luas dan mencakup China.
Ia menegaskan AS tidak meninggalkan upaya pengendalian senjata. Menurut Yeaw, New START dinilai sudah tidak relevan, terutama karena adanya dugaan pelanggaran oleh Rusia.
“Tujuan kami adalah kesepakatan yang lebih baik menuju dunia dengan lebih sedikit senjata nuklir,” ujar Yeaw.

