Ukraina dan Rusia saling melaporkan serangan besar-besaran pada Selasa (15/11) dini hari, ketika pembahasan rencana perdamaian yang dikaitkan dengan pemerintahan Donald Trump masih bergulir di antara para sekutu dan pihak-pihak terkait.
Di Ukraina, drone dan rudal Rusia menghantam Kyiv dan memicu kebakaran di dua gedung hunian, menurut pejabat setempat. Kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko, menyatakan serangan mengenai sebuah gedung bertingkat di tepi timur Sungai Dnipro dan melukai empat orang. Otoritas Ukraina juga melaporkan jumlah korban tewas dalam serangan Rusia ke Kyiv berkisar antara empat hingga enam orang.
Tkachenko mengatakan korban jiwa terjadi di gedung hunian yang terkena serangan. Ia menuduh Rusia sengaja menargetkan infrastruktur sipil dan perumahan, serta menyebut pertahanan udara bekerja di sekitar ibu kota menghadapi drone dan rudal. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menambahkan bahwa sebuah gedung bertingkat di distrik Pechersk harus dievakuasi setelah terkena serangan. Angkatan Udara Ukraina juga memperingatkan adanya ancaman rudal untuk seluruh wilayah Ukraina.
Kementerian Energi Ukraina menggambarkan serangan Rusia sebagai serangan “masif” yang menargetkan infrastruktur listrik. Kementerian menyatakan pekerja energi akan mulai menilai dampak serangan dan melakukan pemulihan segera setelah situasi memungkinkan.
Sementara itu di Rusia, otoritas wilayah perbatasan Krasnodar melaporkan serangan drone Ukraina yang juga disebut “masif”. Gubernur Veniamin Kondratyev menyatakan wilayahnya mengalami salah satu serangan paling intens dan besar-besaran, dengan enam warga terluka dan lebih dari 20 rumah rusak. Markas Operasional Krasnodar melaporkan kerusakan pada lima gedung bertingkat dan dua rumah pribadi.
Kementerian Pertahanan Rusia menyebut sistem pertahanan udara menembak jatuh 10 drone yang menuju Moskow. Dalam pernyataan lain, kementerian itu mengklaim pasukannya menjatuhkan sekitar 249 drone Ukraina. Menurut pengumuman tersebut, antara pukul 23.00 waktu Moskow pada Senin (24/11) hingga pukul 07.00 pada Selasa (25/11), pertahanan udara “mencegat dan menghancurkan 249 kendaraan udara tak berawak bersayap tetap.”
Di Taganrog, Wali Kota Svetlana Kambulova melaporkan satu orang tewas dan tiga orang luka-luka. Ia menyebut sejumlah fasilitas ikut terdampak, termasuk dua gedung apartemen, sebuah rumah pribadi, gedung Mechanical College, dua perusahaan industri, dan Taman Kanak-kanak No. 7.
Rangkaian serangan ini terjadi saat pembahasan upaya menuju perdamaian masih berlangsung. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengadakan panggilan dengan sekutu-sekutu Eropa untuk Ukraina pada Selasa (15/11), menindaklanjuti pembicaraan di Jenewa mengenai rencana perdamaian yang diajukan pemerintahan Donald Trump. Koalisi yang disebut beranggotakan lebih dari 30 negara kembali menekankan dukungan bagi Ukraina.
Starmer mengatakan semua mitra fokus pada “perdamaian yang adil dan bertahan lama,” seraya menilai konflik Ukraina berdampak langsung pada Inggris. Rencana perdamaian Amerika Serikat yang terdiri dari 28 poin dan dipresentasikan pekan lalu menuai kritik karena dinilai menguntungkan Rusia, termasuk usulan konsesi teritorial, pembatasan kemampuan militer Ukraina, dan penghentian peluang keanggotaan NATO.
Setelah pembicaraan di Jenewa pada akhir pekan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan versi terbaru rencana tersebut mengandung lebih sedikit tuntutan terhadap Ukraina. Kremlin pada Senin (14/11) mengatakan belum menerima informasi tentang hasil pembicaraan di Jenewa. Di tengah proses itu, Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll dikabarkan berada di Abu Dhabi selama dua hari untuk mengadakan pembicaraan lanjutan dengan delegasi Rusia dan dijadwalkan bertemu pejabat Ukraina.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, dalam wawancara dengan radio RTL pada Selasa (15/11), menilai rencana yang diajukan Washington “bergerak ke arah yang benar” namun beberapa bagiannya “perlu diperbaiki.” Ia menyebut Moskow sebagai “ancaman utama” bagi Eropa dan mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir “satu-satunya garis merah yang kami miliki adalah Rusia.”
Macron juga menekankan perlunya keputusan Eropa terkait penggunaan aset Rusia yang dibekukan serta pemberian jaminan keamanan nyata bagi Kyiv. Ia menyatakan tentara Ukraina akan menjadi garis pertahanan pertama, sementara pasukan Prancis, Turki, dan Inggris dapat memberi “rasa jaminan tambahan.”
Pengumuman rencana AS pekan lalu memicu kekhawatiran di Ukraina dan di antara sekutunya bahwa Washington, terutama Trump, mungkin menekan Kyiv menerima kesepakatan yang merugikan atau berisiko kehilangan dukungan AS. Rencana itu disebut meminta Ukraina menyerahkan wilayah kedaulatannya, memangkas kemampuan militernya, dan meninggalkan ambisi bergabung dengan NATO. Kyiv menolak dan menyebut proposal tersebut sebagai bentuk kapitulasi terhadap invasi Rusia yang telah berlangsung hampir empat tahun.

