BERITA TERKINI
Negosiasi Iran–AS Mandek, Risiko Salah Hitung Militer Kian Menguat

Negosiasi Iran–AS Mandek, Risiko Salah Hitung Militer Kian Menguat

Kebuntuan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menegaskan memburuknya hubungan kedua negara, sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa ruang diplomasi yang menyempit dapat digantikan oleh kalkulasi militer. Situasi ini dipandang sebagai sinyal bahwa dunia bergerak menuju fase ketegangan baru yang lebih berbahaya.

Ketegangan menguat sejak Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir pada era Presiden Barack Obama dan kemudian menerapkan kembali kebijakan “tekanan maksimum” pada masa pemerintahan Donald Trump. Langkah tersebut dinilai meruntuhkan fondasi kepercayaan. Iran merasa dikhianati, sementara Washington menilai Teheran terus mempertahankan ambiguitas terkait program nuklirnya. Kondisi itu memicu spiral kecurigaan yang belum menemukan titik temu.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut secara konsisten menolak tunduk pada tekanan Barat. Dari sudut pandang Teheran, menyerah pada sanksi dipandang berisiko membuka pintu intervensi. Sebaliknya, bagi Washington, membiarkan Iran mendekati ambang kemampuan senjata nuklir dipandang sebagai ancaman strategis bagi arsitektur keamanan Timur Tengah dan kredibilitas global Amerika Serikat.

Persoalan ini juga dinilai tidak lagi berdiri sendiri. Latihan militer Rusia dan China di sekitar Selat Hormuz dipandang mengirim pesan simbolik bahwa Iran tidak sepenuhnya terisolasi. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia; sekitar seperlima distribusi minyak global melewati kawasan tersebut. Gangguan sekecil apa pun dikhawatirkan dapat mengguncang pasar, memicu lonjakan harga energi, dan mempercepat tekanan ekonomi global.

Di tengah kebuntuan, pertanyaan utama mengemuka: apakah situasi ini dapat berubah menjadi perang. Secara rasional, perang total dinilai bukan pilihan bagi semua pihak. Amerika Serikat disebut tidak menginginkan perang baru di Timur Tengah, sementara Iran menyadari bahwa konfrontasi langsung dengan kekuatan militer terbesar dunia membawa risiko besar. Rusia dan China pun dipandang tidak berkepentingan mendorong pecahnya perang global terbuka.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa perang besar kerap bukan hasil niat awal, melainkan akumulasi salah hitung, provokasi, dan eskalasi bertahap. Skenario serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir Iran, misalnya, dapat memicu balasan asimetris melalui jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, atau Yaman. Situasi itu juga berpotensi menyeret Israel, menjadikan pangkalan militer Amerika sebagai target, serta mengganggu jalur energi. Dalam kondisi yang memanas, eskalasi dinilai bisa bergerak lebih cepat daripada diplomasi.

Soal kemungkinan konflik melebar menjadi Perang Dunia Ketiga, peluangnya dinilai kecil tetapi tidak sepenuhnya dapat diabaikan. Dunia saat ini berada dalam kondisi multipolar yang rapuh, ditandai perang di Ukraina, rivalitas NATO–Rusia, ketegangan di Laut China Selatan, serta konflik di Gaza. Dalam jaringan rivalitas global yang kompleks, keterlibatan langsung kekuatan besar dalam konflik Iran–Amerika dapat meningkatkan risiko pelebaran konflik.

Meski demikian, skenario yang disebut paling realistis adalah konflik regional intens dengan dampak global, terutama terhadap ekonomi dan stabilitas energi. Dampaknya dapat dirasakan melalui inflasi, gejolak pasar, serta instabilitas politik di berbagai negara berkembang.

Pada akhirnya, kebuntuan negosiasi ini dipandang menguji kemampuan para pemimpin dunia untuk menahan ego geopolitik di tengah transisi tatanan global. Jika diplomasi benar-benar gagal, dunia mungkin tidak langsung jatuh ke perang dunia, tetapi berisiko memasuki era konfrontasi berkepanjangan—ketika perdamaian tidak lagi menjadi norma, melainkan jeda singkat sebelum krisis berikutnya.