Pemerintah Hungaria mengancam akan menghambat kelanjutan bantuan finansial Uni Eropa untuk Ukraina menyusul terhentinya pasokan minyak Rusia melalui wilayah Ukraina. Perdana Menteri Viktor Orban menyatakan akan memveto paket pinjaman Uni Eropa senilai 106 miliar dolar AS jika aliran minyak melalui pipa Druzhba tidak segera dipulihkan sepenuhnya.
Ancaman tersebut muncul setelah operasional jalur pipa Druzhba—yang dinilai krusial bagi ketahanan energi Hungaria—dilaporkan berhenti total sejak akhir Januari. Otoritas Ukraina menyatakan gangguan itu terjadi akibat kerusakan infrastruktur yang dipicu serangan udara Rusia.
Paket pinjaman 106 miliar dolar AS yang menjadi sorotan merupakan bantuan tanpa bunga yang disebut telah disetujui Uni Eropa pada Desember 2025 untuk mendukung kebutuhan ekonomi dan militer Ukraina. Namun, Hungaria menegaskan tidak akan mendukung keputusan yang menguntungkan Ukraina selama pasokan energi nasionalnya dianggap terancam oleh kebijakan transit Kiev.
Melalui pernyataan di media sosial, Orban menegaskan posisi Budapest. Ia menyatakan bahwa selama Ukraina memblokir pipa Druzhba, Hungaria akan memblokir “pinjaman perang” untuk Ukraina.
Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, juga melontarkan kritik keras. Ia menuduh Ukraina melanggar hukum internasional serta Perjanjian Asosiasi Uni Eropa–Ukraina, dan menolak apa yang ia sebut sebagai bentuk pemerasan. Pemerintah Hungaria memandang penghentian aliran minyak itu sebagai upaya Kiev menekan Budapest, yang selama ini dikenal kritis terhadap aksesi Ukraina ke Uni Eropa.
Pipa Druzhba membentang dari Rusia menuju Eropa Tengah dan menjadi jalur utama bagi kilang minyak di Hungaria dan Slovakia yang masih bergantung pada minyak mentah jenis Urals. Kerusakan pada jaringan tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa, 27 Januari, di wilayah Ukraina barat, setelah serangan pesawat tak berawak Rusia mengenai infrastruktur pemompaan.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, pemerintah Hungaria merilis cadangan minyak strategis atas permintaan perusahaan energi nasional, MOL. Namun, langkah ini dinilai hanya dapat menjadi solusi jangka pendek karena kapasitas cadangan tidak cukup menopang kebutuhan jangka panjang tanpa pasokan baru. Hungaria juga menyatakan ketergantungan pada energi Rusia berkaitan dengan faktor geografis dan infrastruktur yang tidak dapat diubah secara cepat tanpa risiko ekonomi.
Ketidakpastian jadwal perbaikan pipa memicu kekhawatiran krisis berkepanjangan. Ukraina menyatakan perbaikan dilakukan di bawah ancaman serangan udara yang terus berlangsung. Sementara itu, Hungaria meragukan penjelasan teknis tersebut dan menilai isu ini sarat kepentingan politik.
Dampak penghentian pipa Druzhba juga memicu respons dari Slovakia. Pemerintah Slovakia menyatakan jalur pipa berhenti berfungsi setelah serangan udara Rusia di kota Brody memicu kebakaran besar yang disebut baru padam setelah 10 hari. Meski Ukraina menawarkan rute alternatif atau pengiriman melalui jalur laut, Hungaria dan Slovakia menilai opsi tersebut tidak memadai untuk kebutuhan teknis kilang mereka.
Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mendukung posisi Hungaria dan mengeluarkan ultimatum terkait pasokan listrik darurat. Ia menyatakan bahwa jika pada 23 Februari 2026 Ukraina tidak melanjutkan pengiriman minyak, ia akan meminta perusahaan Slovakia menghentikan pasokan listrik darurat ke Ukraina pada tanggal yang sama.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena Slovakia disebut sebagai salah satu pemasok listrik utama untuk menutup defisit energi Ukraina akibat serangan Rusia. Menteri Ekonomi Slovakia Denisa Sakova menyatakan Ukraina terus menunda jadwal pengiriman ulang minyak melalui pipa Druzhba. Slovakia menilai penundaan tersebut sebagai tindakan tidak bersahabat dan mengklaim, berdasarkan informasi intelijen mereka, perbaikan teknis sebenarnya telah selesai.
Data lembaga analisis energi menunjukkan aliran minyak melalui cabang selatan pipa Druzhba pada Januari 2026 rata-rata sekitar 150 ribu barel per hari sebelum kerusakan terjadi, turun dari rata-rata harian tahun sebelumnya yang mencapai 200 ribu barel per hari. Penurunan pasokan ini disebut mendorong Hungaria dan Slovakia menghentikan sementara ekspor bahan bakar diesel ke Ukraina sebagai bentuk pembalasan.
Di pihak lain, Ukraina menegaskan pemulihan infrastruktur energi membutuhkan waktu dan memerlukan kondisi keamanan yang lebih stabil dari serangan rudal Rusia. Kiev menyatakan para teknisi bekerja di bawah ancaman yang membahayakan nyawa untuk memulihkan fasilitas di Brody.
Krisis ini juga memunculkan perdebatan di Brussel karena Hungaria mengaitkan bantuan Uni Eropa untuk Ukraina dengan persoalan energi. Perdebatan tersebut menyoroti kesatuan sikap Uni Eropa terhadap Rusia. Disebutkan bahwa ketika sebagian besar anggota Uni Eropa mengurangi ketergantungan energi pada Rusia, Hungaria justru meningkatkan impor minyak dan gas sejak perang pada 2022. Orban selama ini menentang sanksi di sektor energi Rusia dengan alasan berisiko bagi ekonomi Hungaria.
Szijjarto kembali menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiayai perang yang tidak didukung oleh Budapest dan menolak mengorbankan kepentingan nasional. Dalam mekanisme Uni Eropa, pencairan paket pinjaman 106 miliar dolar AS membutuhkan persetujuan bulat seluruh negara anggota. Sebelumnya, Hungaria, Slovakia, dan Republik Ceko sempat menolak rencana pinjaman tersebut, sebelum akhirnya ada kesepakatan setelah mereka menerima jaminan perlindungan dari kerugian finansial.
Namun, krisis pipa Druzhba disebut mengguncang konsensus itu dan membuat bantuan finansial untuk Ukraina terancam batal jika tidak ada kesepakatan baru. Komisi Eropa saat ini berupaya memediasi melalui Oil Coordination Group untuk mengevaluasi keamanan pasokan energi bersama perwakilan negara anggota.
Seorang juru bicara Komisi Eropa menyatakan tidak melihat adanya keadaan darurat jangka pendek atau risiko terhadap keamanan pasokan saat ini, karena Hungaria dan Slovakia memiliki stok cadangan minyak darurat selama 90 hari.
Sementara itu, Ukraina tetap menyatakan terhentinya aliran pipa Druzhba merupakan persoalan teknis akibat agresi militer Rusia, bukan taktik politik. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan Ukraina tidak akan menyerah dan menyerukan dukungan internasional yang lebih kuat untuk mengamankan infrastruktur energi. Kiev juga meminta Brussel turun tangan mendorong Hungaria dan Slovakia agar berhenti menyalahkan Ukraina atas kerusakan yang dikaitkan dengan serangan militer Rusia.

