BERITA TERKINI
IHSG Turun 1,43% pada Sesi I, Rupiah Tertekan hingga Rp17.508 per Dolar AS di Tengah Kekhawatiran Arus Modal Keluar

IHSG Turun 1,43% pada Sesi I, Rupiah Tertekan hingga Rp17.508 per Dolar AS di Tengah Kekhawatiran Arus Modal Keluar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sesi I Selasa (12/5/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi arus modal asing keluar dari pasar domestik. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 98,49 poin atau 1,43% ke level 6.807,12, dibanding penutupan sebelumnya di 6.905,62.

Tekanan juga terlihat di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau masih tertekan dan sempat bergerak di kisaran Rp17.508 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani aset berisiko.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Investor mencermati potensi keluarnya sejumlah saham berkapitalisasi besar dari indeks acuan global tersebut. Kekhawatiran ini dinilai dapat memicu risiko capital outflow, mengingat investor institusi asing kerap menyesuaikan portofolio berdasarkan komposisi indeks MSCI.

Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik turut menambah tekanan. Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga energi dipandang dapat memperbesar tekanan inflasi global sekaligus meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.

Sejumlah analis menilai pasar keuangan Indonesia bergerak dalam tekanan eksternal. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban impor energi dan memperbesar tekanan terhadap rupiah. Pada saat yang sama, investor asing cenderung mengurangi eksposur di negara berkembang ketika risiko global meningkat.

Di kawasan, pasar negara berkembang di Asia juga dilaporkan mengalami volatilitas akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS dalam beberapa hari terakhir.

Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi isu perlambatan industri dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor padat karya. Kekhawatiran terhadap melemahnya daya beli dan perlambatan pertumbuhan ekonomi mendorong investor melakukan aksi jual pada saham-saham unggulan.

Pada perdagangan pagi hingga siang, saham-saham sektor perbankan besar, komoditas, dan teknologi tercatat menjadi penekan utama IHSG. Aktivitas jual investor asing juga masih mendominasi di pasar reguler.

Pelaku pasar kini menanti langkah pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempertahankan kepercayaan investor, di tengah tekanan global yang dinilai belum mereda.