Jakarta — Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai situasi ekonomi global saat ini berada dalam kondisi yang sangat tidak menentu. Menurut dia, dunia menghadapi banyak tantangan serta beragam faktor yang memengaruhi kondisi perusahaan dan perekonomian.
Andry mengatakan kompleksitas ketidakpastian tersebut tercermin dalam penyusunan skenario ekonomi di internal Bank Mandiri Group. “Bahkan kalau kita membuat skenario saat ini, kita di internal Bank Mandiri Group, kita merasakan skenario yang kita lakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kita buat,” ujarnya dalam acara Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia memaparkan, salah satu sumber tekanan global datang dari konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang belum menemukan titik temu. Kondisi ini berimplikasi pada potensi disrupsi di Selat Hormuz, sehingga risiko pasokan energi tetap tinggi dengan harga minyak bertahan di atas USD100 per barel. Dalam situasi tersebut, sentimen risk-off menguatkan dolar AS dan menekan aset negara-negara emerging markets.
Dari sisi proyeksi pertumbuhan, International Monetary Fund (IMF) juga memangkas outlook pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026. Penurunan proyeksi ini dikaitkan dengan meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.
Di pasar keuangan, pelaku pasar memproyeksikan Fed Fund Rate (FFR) tidak turun sepanjang tahun ini dan bertahan di level 3,75 persen. Probabilitas CME FedWatch menunjukkan dominasi rentang 350–375 basis points (bps) hingga akhir tahun.
Tekanan eksternal tersebut turut menahan arus inflow ke negara berkembang dan berpotensi berubah menjadi outflow, seiring penguatan dolar AS serta meningkatnya penghindaran risiko secara global.
Risiko yang perlu diwaspadai
Andry menilai terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Pertama, disrupsi Selat Hormuz dan eskalasi AS–Iran–Lebanon yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak, sehingga meningkatkan beban fiskal akibat naiknya subsidi energi.
Kedua, kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Dampaknya, ruang pelonggaran moneter bank sentral di emerging market—termasuk Bank Indonesia—menjadi lebih terbatas.
Ketiga, sentimen risk-off berpotensi mendorong depresiasi rupiah, kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan terhadap bursa saham. Keempat, terdapat risiko kenaikan suku bunga pasar (market rate) dan terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya impor.
Peluang bagi Indonesia
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Andry menyebut Indonesia memiliki peluang memperoleh windfall dari sejumlah komoditas ekspor seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel yang mengalami kenaikan harga. Kondisi ini dinilai dapat memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.
Selain itu, relokasi rantai pasok global dinilai membuka peluang penanaman modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai pusat manufaktur alternatif. Penguatan kebijakan hilirisasi juga disebut dapat meningkatkan nilai tambah ekspor melalui pergeseran dari bahan mentah menuju produk olahan, seperti smelter, katoda, dan battery grade.
Andry menambahkan, transisi energi global turut menciptakan momentum investasi pada kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan. Dalam konteks ini, Indonesia dinilai berpotensi menjadi pemain kunci dalam ekosistem baterai dan listrik global.