Sebanyak 12 pemerintah provinsi berkumpul di Kota Semarang, Jawa Tengah, untuk menyusun strategi bersama menghadapi tekanan ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik serta tantangan fiskal daerah menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan berlangsung dalam Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU), yang mempertemukan kepala daerah dari sejumlah wilayah strategis di Indonesia. Forum ini menjadi ruang konsolidasi antardaerah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai situasi global saat ini menuntut pemerintah daerah lebih kreatif dan tidak bekerja sendiri-sendiri. “Kita menyadari bahwa di situasi global saat ini, tekanan fiskal dan berbagai keterbatasan menuntut seluruh pejabat publik lebih kreatif,” ujar Luthfi saat menghadiri Gala Dinner Rapat Kerja Gubernur FKD MPU di Semarang, Senin (11/5).
Menurut Luthfi, setiap provinsi memiliki kekuatan dan karakteristik ekonomi yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi. Ia menilai kolaborasi antardaerah menjadi kunci untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Provinsi satu dengan provinsi lain tidak bisa dibandingkan. Kita punya keunggulan masing-masing yang bisa dikembangkan bersama-sama,” katanya.
Forum tersebut diikuti 12 provinsi, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau.
Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menyebut forum MPU memiliki posisi strategis untuk memperkuat sinergi pembangunan nasional di tengah dinamika global. Ia mengatakan agenda utama rapat kerja kali ini meliputi evaluasi enam fokus rencana aksi MPU, penguatan pengawasan energi dan pangan lintas wilayah, serta sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
“Agenda ini strategis, relevan, dan visioner di tengah dinamika global dan tantangan pembangunan nasional saat ini,” ujar Wiyagus.
Wiyagus juga menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat di tengah tekanan global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional secara tahunan (year on year) pada April 2026 tercatat 2,42 persen, sementara pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen.
Dalam paparan tersebut, Pulau Jawa disebut masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan sumbangan 57,24 persen. Posisi berikutnya ditempati Sumatera sebesar 22,09 persen dan Bali-Nusa Tenggara sebesar 2,80 persen. “Ini menunjukkan ekonomi Indonesia tetap resilience di tengah tekanan global,” katanya.
Pemerintah pusat juga menyoroti perbedaan sektor unggulan di tiap daerah anggota MPU. Jawa Barat dan Banten disebut kuat di sektor manufaktur dan investasi, sementara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung menjadi penopang pangan serta industri pengolahan. DKI Jakarta berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa keuangan nasional, sedangkan Bali, DI Yogyakarta, dan NTB bertumpu pada pariwisata dan ekonomi kreatif.
Melalui forum ini, pemerintah berharap berbagai potensi tersebut dapat diintegrasikan dalam kerja sama konkret lintas daerah untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan nasional.