PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sepekan 9–13 Februari 2026 akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Proyeksi ini muncul di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih mendorong sikap hati-hati pelaku pasar.
Dalam perkiraannya, IHSG diprediksi bergerak pada rentang support 7.716 dan resistance 8.207. Pasar disebut akan mencermati rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan China, serta indikator konsumsi domestik Indonesia. Selain itu, pelaku pasar juga menimbang dampak lanjutan kebijakan Moody’s terhadap persepsi risiko pasar.
“Dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini kami perkirakan bervariasi cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207,” ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi, Senin, 9 Februari 2026.
Dari Amerika Serikat, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 2,5 persen year-on-year (yoy) dari 2,7 persen yoy. Penurunan ini dinilai dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
Selain inflasi, data initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan stabil di 4,4 persen. Kondisi tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.
Sementara dari China, pasar akan mencermati data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4 persen yoy dari 0,8 persen yoy. Proyeksi ini mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan membuka ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat.
Dari dalam negeri, investor menanti rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Pasar juga memantau data penjualan mobil Januari 2026 untuk membaca arah konsumsi domestik pada awal tahun.
Di luar agenda data ekonomi, IPOT menilai pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, terutama dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook.
“Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar,” kata Imam.
Merespons kondisi tersebut, IPOT menyampaikan sejumlah rekomendasi saham untuk pekan ini. Salah satunya adalah PT Panin Financial Tbk (PNLF) di sektor jasa keuangan non-bank, dengan area masuk 270 hingga 272, target harga 292, dan batas risiko di bawah 260.
PNLF dinilai merepresentasikan pemulihan sektor asuransi jiwa seiring pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kebutuhan proteksi finansial. Penilaian tersebut didasarkan pada perbaikan kualitas bisnis, peningkatan profitabilitas, serta manajemen risiko yang lebih konservatif.
Rekomendasi berikutnya adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) di sektor energi dan pertambangan batu bara, dengan area beli 2.080, target harga 2.240, dan batas risiko di bawah 2.000. ADRO dinilai memiliki posisi kas yang kuat serta struktur bisnis yang relatif defensif di tengah volatilitas harga komoditas, dengan dukungan efisiensi biaya produksi, diversifikasi ke energi terbarukan, serta kebijakan pengelolaan modal dan dividen yang disiplin.
IPOT juga merekomendasikan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) di sektor properti, dengan area masuk 8.925, target harga 9.600, dan batas risiko di bawah 8.600. PANI membukukan pra penjualan sebesar Rp4,3 triliun sepanjang 2025 atau setara 100 persen dari target, yang dinilai mencerminkan kuatnya permintaan terhadap proyek-proyek perseroan serta efektivitas monetisasi land bank premium.
Selain saham, IPOT turut merekomendasikan Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). Penurunan harga pada konstituen XIHD dinilai berpotensi mendorong dividend yield menjadi lebih atraktif. Dengan fokus underlying pada saham-saham berdividen stabil, koreksi harga disebut dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap untuk strategi defensif dengan potensi pemulihan nilai dalam jangka menengah hingga panjang.

