BERITA TERKINI
China Diduga Kian Mengurangi Kepemilikan Obligasi AS di Tengah Kekhawatiran Risiko Sanksi Terkait Taiwan

China Diduga Kian Mengurangi Kepemilikan Obligasi AS di Tengah Kekhawatiran Risiko Sanksi Terkait Taiwan

Beijing diduga diam-diam melepas kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam jumlah yang lebih besar. Langkah ini dinilai lebih terkait dengan perhitungan risiko sanksi ekonomi apabila terjadi skenario invasi ke Taiwan, ketimbang kekhawatiran terhadap kredibilitas kredit AS.

Pantauan Mureks menunjukkan kepemilikan obligasi AS oleh China telah menyusut sekitar 50% sejak 2014. Penurunan tersebut dipandang mencerminkan perubahan strategi dalam portofolio investasi China.

Sejumlah pihak menduga sebagian kepemilikan obligasi itu kini dialihkan melalui kustodian pihak ketiga di negara-negara seperti Belgia, Luksemburg, dan Inggris. Skema ini disebut dapat membuat kepemilikan tidak terlihat secara langsung.

Kekhawatiran terkait Taiwan ikut meningkat seiring eskalasi ketegangan China–Taiwan sejak Desember lalu. Perkembangan yang menonjol meliputi latihan militer besar-besaran oleh China, paket penjualan senjata AS senilai 11,1 miliar dolar AS kepada Taiwan, serta insiden penyusupan drone pada tahun ini.

Analis investasi Deep Value Investing menyatakan keyakinannya bahwa risiko invasi Taiwan kini lebih tinggi. Meski demikian, ia menilai risikonya belum cukup untuk mendorong likuidasi seluruh portofolionya, dan ia tetap bersikap cautiously bullish atau optimistis secara hati-hati terhadap pasar AS secara lebih luas.

Hingga awal tahun ini, pasar secara umum disebut bergerak netral. Indeks S&P 500 tercatat naik kurang dari 1% sementara Nasdaq 100 turun 0,7% secara year-to-date per 9 Februari 2026.