BERITA TERKINI
IEA: Pemangkasan Emisi Metana dari Fosil Jadi Kunci Keamanan Energi Global

IEA: Pemangkasan Emisi Metana dari Fosil Jadi Kunci Keamanan Energi Global

Badan Energi Internasional (IEA) menilai pemangkasan emisi metana dari sektor bahan bakar fosil kini menjadi instrumen penting bagi keamanan energi global, bukan semata agenda lingkungan. Penegasan itu muncul di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang disebut telah mengganggu rantai pasok energi dunia.

Dalam laporan Global Methane Tracker 2026, IEA menyatakan pengurangan emisi metana dapat menjadi langkah cepat untuk membantu menambal kelangkaan pasokan gas yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. IEA juga menyinggung kondisi Selat Hormuz yang masih diblokade, sehingga akses pada salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia terganggu. Dalam situasi ini, optimalisasi sumber daya yang selama ini terbuang, termasuk kebocoran metana, dinilai sebagai langkah yang paling logis.

IEA mencatat industri minyak, gas, dan batu bara menyumbang sekitar 35 persen dari total emisi metana akibat aktivitas manusia. Namun, laporan tersebut menyebut belum terlihat tanda-tanda penurunan emisi yang signifikan dari operasional bahan bakar fosil secara global. Metana sendiri merupakan kontributor terbesar kedua terhadap perubahan iklim setelah karbon dioksida.

Meski bertahan lebih singkat di atmosfer, metana memiliki dampak pemanasan yang jauh lebih kuat. IEA menyebut efek pemanasan metana sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun. Dalam konteks kenaikan harga minyak seiring konflik bersenjata AS-Israel dengan Iran yang disebut dimulai sejak Februari, IEA menekankan efisiensi energi menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

“Mengurangi emisi metana adalah salah satu hal terbaik yang dapat kita lakukan untuk memperlambat pemanasan global sekaligus membersihkan udara, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan memperkuat keamanan energi kita,” kata Sekretaris Negara Inggris untuk Keamanan Energi Ed Miliband dalam pesan video di konferensi Paris, seperti dikutip dari Aljazirah, Selasa (5/5/2026).

IEA memperkirakan emisi metana dari operasional minyak, gas, dan batu bara mencapai 124 juta ton per tahun. Rinciannya, sektor minyak menyumbang 45 juta ton (Mt), disusul batu bara 43 Mt, dan gas alam 36 Mt.

Menurut IEA, hampir 100 miliar meter kubik gas alam dapat tersedia setiap tahun melalui upaya global untuk memangkas kebocoran metana dari operasional minyak dan gas. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 miliar meter kubik disebut dapat disediakan dalam waktu sangat singkat untuk memberi bantuan langsung pada pasar gas yang sedang tertekan.

Selain itu, penghapusan pembakaran gas yang tidak darurat (non-emergency flaring) secara global diperkirakan berpotensi membuka tambahan 100 miliar meter kubik gas. Di tengah krisis yang mengganggu sekitar 20 persen aliran perdagangan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia, IEA menilai angka-angka tersebut menjadi peluang strategis yang tidak bisa diabaikan.

Di Paris, Prancis memanfaatkan posisinya sebagai ketua G7 untuk mengumpulkan pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan pakar guna membangun momentum pemangkasan emisi metana. Pertemuan itu dipandang sebagai batu loncatan menuju KTT COP31 PBB yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.