Dewan Kriket Internasional (ICC) menuai kecaman setelah mencoret Bangladesh dari turnamen T20 World Cup menyusul penolakan tim tersebut untuk bertanding di India dengan alasan keamanan. Keputusan ICC itu memicu tuduhan “standar ganda” dan dinilai merusak reputasi olahraga kriket.
ICC mengumumkan pencoretan Bangladesh pada Sabtu, 24 Januari 2026, setelah kebuntuan selama berminggu-minggu terkait permintaan perubahan lokasi pertandingan. Dalam pengumuman tersebut, ICC menyatakan Skotlandia akan menggantikan posisi Bangladesh di ajang yang dijadwalkan dimulai pada 7 Februari.
Kritik datang dari sejumlah tokoh kriket dunia, termasuk Asosiasi Pemain Kriket Dunia (WCA). Kepala Eksekutif WCA, Tom Moffat, menyebut situasi ini sebagai “momen menyedihkan” bagi olahraga kriket, pemain, dan penggemar Bangladesh.
“Penarikan Bangladesh dari T20 World Cup, dan absennya negara kriket yang berharga dari ajang T20 internasional puncak kriket, adalah momen menyedihkan bagi olahraga kami, para pemain dan penggemar Bangladesh, dan satu hal yang memerlukan refleksi mendalam,” kata Moffat dalam pernyataannya. Ia juga menyerukan agar para pemimpin olahraga bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan—termasuk badan pengatur, liga, dan pemain—untuk menyatukan kriket, bukan memecahnya.
Moffat turut menyoroti kekhawatiran WCA terkait perjanjian yang tidak dihormati serta minimnya konsultasi yang bermakna dengan para pemain dan perwakilan mereka. Menurutnya, jika persoalan semacam ini berlanjut, hal tersebut berisiko melemahkan kepercayaan, persatuan, serta kesehatan dan masa depan kriket.
Di sisi lain, ICC menolak permintaan Bangladesh untuk memindahkan pertandingan mereka ke Sri Lanka—yang juga menjadi tuan rumah bersama—dengan alasan perubahan jadwal tidak memungkinkan dilakukan menjelang dimulainya turnamen. Namun, keputusan itu memicu perbandingan dengan langkah ICC sebelumnya yang memindahkan jadwal pertandingan India dari Pakistan ke tempat netral.
Dalam kasus lain tersebut, India menolak bepergian ke Pakistan untuk ICC Champions Trophy pada Maret berdasarkan keputusan pemerintah. ICC kemudian menengahi kesepakatan yang memungkinkan kedua negara bermain di tempat netral ketika Pakistan menjadi tuan rumah turnamen global. Semua pertandingan India di Champions Trophy, termasuk final, digelar di Dubai, Uni Emirat Arab.
Mantan kapten Pakistan, Shahid Afridi, menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan ICC terkait Bangladesh. “Para pemain Bangladesh dan jutaan penggemarnya berhak mendapatkan rasa hormat – bukan standar ganda,” tulis Afridi di platform X. Ia menambahkan, “ICC seharusnya membangun jembatan, bukan membakarnya.”
Meski hubungan India dan Bangladesh tidak disebut sebermusuhan seperti India-Pakistan, hubungan kedua negara disebut turut dipengaruhi ketegangan politik belakangan ini.
Isu ini juga memunculkan pernyataan dari pihak Pakistan. Seorang pejabat, Naqvi, menegaskan sikap partisipasi negaranya akan mengikuti instruksi pemerintah Pakistan. “Sikap kami [tentang partisipasi Piala Dunia] akan sesuai dengan instruksi pemerintah Pakistan,” ujarnya. “Itu keputusan pemerintah [Pakistan]. Kami mematuhinya, bukan ICC.”
Naqvi menilai ICC telah berlaku tidak adil terhadap Bangladesh. “Anda tidak bisa memiliki standar ganda. Anda tidak bisa mengatakan untuk satu negara [India] mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan dan untuk yang lain harus melakukan yang sebaliknya,” katanya. Ia menambahkan Bangladesh semestinya tetap tampil di Piala Dunia karena merupakan pemangku kepentingan utama dalam kriket.
Naqvi juga menyebut, jika pemerintah Pakistan memblokir partisipasi di Piala Dunia, maka “mungkin ICC akan membawa tim ke-22 [setelah Skotlandia]. Itu terserah pemerintah.”

