Hari Air Sedunia (World Water Day) 2026 menyoroti keterkaitan antara akses air yang adil, pembangunan berkelanjutan, dan hak asasi manusia. Meski dampaknya tidak merata di setiap wilayah, krisis air global disebut memengaruhi semua orang.
Peringatan tahun ini diiringi kampanye bertema “Di mana air mengalir, kesetaraan tumbuh” yang berlangsung selama sesi ke-70 Komisi tentang Status Perempuan. Kampanye tersebut sekaligus menandai Hari Gletser Sedunia pada 21 Maret dan Hari Air Sedunia pada 22 Maret.
Rangkaian kegiatan mempertemukan Negara-negara Anggota, entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta mitra untuk memperkuat integrasi agenda air, kesetaraan gender, iklim, dan pembangunan.
Peringatan ini juga menjadi momentum peluncuran Laporan Pembangunan Air Dunia PBB 2026 berjudul Air untuk Semua Orang: Hak dan Kesempatan yang Setara. Laporan tersebut diterbitkan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) atas nama UN-Water, dengan proses produksi dikoordinasikan oleh Program Penilaian Air Dunia UNESCO.
Dalam laporannya, UNESCO menyajikan bukti dan panduan kebijakan mengenai bagaimana ketidaksetaraan gender dapat merusak keamanan air global. Laporan itu juga menguraikan pendekatan tata kelola air yang lebih inklusif dan responsif gender.
Sementara itu, Hari Gletser Sedunia 2026 menggarisbawahi peran gletser dalam mengatur ketersediaan air tawar. Peringatan ini berlandaskan pada Tahun Internasional Pelestarian Gletser 2025 dan mendorong kerja sama dalam kerangka Dekade Aksi untuk Ilmu Kriosfer (2025–2034), dengan menyoroti keterkaitan antara pelestarian gletser, keamanan air, serta pengelolaan air yang inklusif dan responsif gender.

