BERITA TERKINI
Harga Batu Bara Menguat di Tengah Perang dan Gangguan Pasokan Energi Global

Harga Batu Bara Menguat di Tengah Perang dan Gangguan Pasokan Energi Global

Jakarta — Harga batu bara menunjukkan tren menguat di tengah memanasnya situasi geopolitik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian diikuti penutupan Selat Hormuz. Pakar energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai batu bara cenderung kembali menjadi komoditas unggulan ketika harga minyak meningkat tajam.

Di saat grafik harga emas dilaporkan menurun dalam dua bulan sejak pecahnya perang, batu bara bergerak sebaliknya. Harga batu bara sempat mencapai 145,86 dolar AS per ton pada pertengahan Maret 2026, naik dibandingkan sekitar 115 dolar AS per ton sebulan sebelumnya. Kenaikan itu disebut terjadi setelah serangan terhadap Iran dan semakin terdorong ketika Iran menutup Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz menegaskan rapuhnya rantai pasok energi dunia. Dalam kondisi pasokan minyak dan gas terganggu, batu bara kembali dipandang sebagai alternatif yang cepat tersedia untuk menutup kebutuhan energi, terutama saat risiko krisis meningkat.

Batu bara sebagai penyangga keamanan energi

Yayan menjelaskan, penguatan harga batu bara di tengah perang berkaitan dengan meningkatnya peran batu bara sebagai pengganti sejumlah komoditas energi, khususnya di negara-negara Asia. Ia mencontohkan kebijakan Korea Selatan dan Jepang yang melonggarkan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik sebagai respons atas situasi pasokan energi.

Korea Selatan, yang sebelumnya membatasi operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebesar 80 persen, memutuskan melonggarkan batasan tersebut untuk menjaga keamanan energi domestik. Mengacu pada laman resmi Greenpeace, Korea Selatan juga disebut berencana menunda pensiun PLTU pada 2026 dan mempertahankan 21 dari 60 PLTU setelah 2040 sebagai cadangan strategis jika krisis energi kembali terjadi.

Di Jepang, pada April 2026, Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Ryosei Akazawa menyatakan akan meningkatkan operasi pembangkit listrik tenaga batu bara. Kebijakan kedua negara itu diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada gas sebagai pembangkit listrik, di tengah krisis pasokan LNG. Penutupan Selat Hormuz dinilai berdampak besar karena jalur tersebut dilaporkan dilalui sekitar 20 persen pasokan LNG dunia.

Daya tarik batu bara di tengah krisis juga terlihat di negara Asia lain. China mengembangkan proyek coal to liquids untuk menjadikan batu bara sebagai alternatif minyak mentah. Filipina disebut beralih dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke PLTU. India pun memiliki ambisi melakukan gasifikasi 100 juta ton batu bara guna menekan ketergantungan pada impor migas.

Tren pemanfaatan kembali batu bara tidak hanya terjadi di Asia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa juga kembali menggunakan batu bara untuk menjaga ketahanan energi domestik. Bahlil menyebut Eropa meminta pasokan batu bara sebesar 20 juta ton per tahun.

Respons berbagai negara tersebut menunjukkan batu bara kembali diposisikan sebagai stabilisator ketika pasokan minyak dan gas terganggu, dengan keamanan energi menjadi prioritas utama.

Posisi Indonesia dan ketahanan energi

Laporan Eye on the Market oleh JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dinilai paling tahan terhadap guncangan energi global. Ketahanan itu dikaitkan dengan produksi batu bara domestik. Dalam bauran konsumsi energi akhir nasional, batu bara disebut memenuhi sekitar 48 persen, disusul gas bumi 22 persen dan energi terbarukan sekitar 7 persen.

Bagi Indonesia, batu bara dinilai menopang keamanan energi karena harganya relatif lebih murah dan ketersediaannya melimpah. Pada 2025, konsumsi batu bara dalam negeri sekitar 254 juta ton, terutama untuk kebutuhan listrik dan industri strategis seperti pupuk, semen, dan metalurgi. Sementara produksi batu bara pada 2025 bertahan tinggi di sekitar 790 juta ton.

Pemerintah juga menempatkan batu bara bukan hanya sebagai pilar keamanan energi, tetapi sebagai bagian dari upaya menuju swasembada energi.

Hilirisasi untuk swasembada energi: proyek DME

Upaya pengelolaan batu bara domestik dikaitkan dengan peran MIND ID sebagai Holding Industri Pertambangan Indonesia. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan komitmen mendukung swasembada energi nasional melalui pengelolaan sumber daya dan cadangan batu bara secara optimal, termasuk memastikan pasokan bagi kelistrikan dan industri strategis serta mendorong hilirisasi.

Salah satu fokus hilirisasi adalah pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), yang memiliki karakteristik mirip LPG. Pemerintah meyakini DME dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Data yang disampaikan dalam laporan tersebut menyebut Indonesia masih mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan LPG. Kebutuhan LPG pada 2026 diproyeksikan mencapai 10 juta ton, sementara kapasitas produksi domestik sekitar 1,6 juta ton, sehingga sekitar 8,4 juta ton dipenuhi melalui impor.

Bahlil, yang juga menjabat Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, disebut mendorong percepatan proyek DME. Dalam rangka Hilirisasi Tahap II, Presiden Prabowo Subianto meresmikan pembangunan 13 proyek strategis nasional (PSN) dari Sumatera hingga Papua. Salah satunya adalah proyek pengolahan batu bara menjadi DME oleh PT Bukit Asam (PTBA) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Proyek DME PTBA dirancang dengan kapasitas awal sekitar 1,4 juta ton DME per tahun, setara dengan 1 juta ton LPG. Proyek ini diharapkan berkontribusi memperkuat kemandirian energi nasional serta menjaga ketersediaan energi yang stabil di tengah volatilitas geopolitik.

Peluang lain: batu bara untuk petrokimia

Selain DME, Ketua Bidang Kajian Batu Bara dan Renewable Energy Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) FH Kristiono menilai industri batu bara nasional dapat mengeksplorasi peluang lain, termasuk menjadikan batu bara sebagai bahan dasar petrokimia seperti yang dilakukan China.

China disebut agresif mengembangkan industri coal-to-olefins (CTO), yakni batu bara menjadi olefin untuk memproduksi plastik, serat sintetis, dan karet sebagai alternatif berbasis minyak. Kristiono meyakini Indonesia berpeluang mengembangkan industri serupa dengan dukungan cadangan batu bara yang besar.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per September 2025, cadangan batu bara Indonesia sekitar 31,9 miliar ton, dengan total sumber daya mencapai 97,96 miliar ton. Kristiono menilai diversifikasi pemanfaatan batu bara, termasuk ke olefin, dapat menjadi strategi menghadapi tantangan transisi energi ketika permintaan batu bara untuk pembangkit listrik berpotensi turun.

Dengan tren tersebut, batu bara kembali menonjol sebagai penopang pasokan energi saat krisis, sekaligus diproyeksikan tetap relevan melalui hilirisasi dan diversifikasi di tengah perubahan arah kebijakan energi global.