Badan Energi Internasional (IEA) pada 22 Maret memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah menciptakan “kemacetan energi terbesar yang pernah ada”. Jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas global disebut hampir lumpuh sejak akhir Februari.
IEA menyatakan sekitar 11 juta barel minyak per hari serta 140 miliar meter kubik gas terdampak gangguan, mendorong harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel dan memicu kenaikan tajam harga energi.
Menurut IEA, dampak krisis tidak hanya terasa pada harga bahan bakar. Efeknya merembet ke inflasi, biaya impor, dan pertumbuhan ekonomi. Skala dan tingkat keparahan gangguan ini bahkan dinilai melampaui guncangan minyak pada 1970-an serta krisis energi selama konflik Rusia–Ukraina.
Dengan rantai pasok yang belum sepenuhnya pulih dan inflasi yang masih tinggi, guncangan ini disebut sebagai salah satu gangguan energi paling parah dalam beberapa dekade, dengan konsekuensi luas terhadap produksi, perdagangan, dan kehidupan sehari-hari.
Untuk meredam dampak ekonomi, IEA mengoordinasikan pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis—intervensi terbesar sejauh ini—serta menyatakan kesiapan menggunakan cadangan tambahan bila diperlukan. Meski demikian, IEA menekankan langkah tersebut terutama bertujuan mengurangi tekanan ekonomi, sementara solusi mendasar tetap pemulihan arus lalu lintas normal di Selat Hormuz.
Di lapangan, gangguan pasokan memaksa banyak kilang di Asia menurunkan kapasitas. Di Eropa, harga gas dilaporkan naik lebih dari 60%, mendorong kenaikan biaya produksi dan biaya hidup. Di Prancis, harga rata-rata bensin sekitar 1,87 euro per liter dan solar sekitar 2,03 euro per liter, menambah tekanan bagi individu maupun pelaku usaha.
Di tengah ketidakpastian pasokan bahan bakar dan gas, sejumlah negara bergerak cepat menerapkan kebijakan untuk menahan lonjakan harga. Di Korea Selatan, Presiden Lee Jae Myung memerintahkan pemberlakuan pembatasan harga bahan bakar dan langkah pencegahan untuk mengendalikan volatilitas harga serta pasar valuta asing. Hongaria membatasi harga eceran menjadi 595 forint per liter untuk bensin dan 615 forint per liter untuk solar, sekaligus membuka cadangan minyak nasional guna menjaga pasokan.
Slovenia menerapkan pembatasan pembelian bahan bakar: kendaraan pribadi maksimal 50 liter per hari, sementara bisnis dan kelompok prioritas dibatasi hingga 200 liter. Sejumlah perusahaan, termasuk MOL Group, memperketat batasan lebih jauh dengan menetapkan maksimal 30 liter untuk pelanggan individu.
Di Eropa, beberapa negara mengombinasikan regulasi harga dengan kebijakan pajak. Jerman dan Austria mengontrol frekuensi penyesuaian harga untuk membatasi volatilitas sentimen, sementara Spanyol menyiapkan paket dukungan sekitar 5 miliar euro dan menurunkan PPN energi dari 21% menjadi 10%.
Di Asia—wilayah yang terdampak langsung karena sebagian besar pasokan minyak dan LNG melalui Selat Hormuz melewati kawasan ini—berbagai negara menitikberatkan pengurangan konsumsi dan pengamanan pasokan. Sri Lanka menerapkan kuota bahan bakar, Filipina memberlakukan minggu kerja empat hari di sektor publik, dan Thailand mempertimbangkan pembatasan harga serta pembatasan kendaraan. Korea Selatan dan Jepang juga memperketat kontrol harga sambil meningkatkan cadangan.
Vietnam, sebagai negara pengimpor produk minyak bumi, disebut merasakan dampak fluktuasi harga global yang cepat menyebar ke perekonomian. Namun, pengelolaan yang proaktif dan terkoordinasi sejak dini dinilai membuat pasokan domestik pada dasarnya terjamin, sehingga mencegah gangguan atau kekurangan yang meluas.
Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam disebut telah mengeluarkan arahan kepada sistem distribusi minyak bumi di seluruh negeri untuk menjaga kelancaran operasi penjualan dan memastikan pasokan dalam berbagai situasi. Pada saat yang sama, kementerian meninjau, mengubah, dan menambah mekanisme serta kebijakan guna memfasilitasi pelaku usaha mendiversifikasi sumber impor, yang dinilai memperkuat pasokan bagi produksi dan konsumsi.

