BERITA TERKINI
Dosen UWM: Krisis Energi Global Harus Dipandang sebagai Isu Kemanusiaan, Bukan Sekadar Ekonomi

Dosen UWM: Krisis Energi Global Harus Dipandang sebagai Isu Kemanusiaan, Bukan Sekadar Ekonomi

SLEMAN — Krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan energi nasional. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Bhenu Artha, menilai persoalan energi tidak bisa lagi dipahami semata dari sisi ekonomi.

“Ketahanan energi harus dipandang sebagai isu kemanusiaan, bukan sekadar angka statistik,” kata Bhenu.

Ia menjelaskan, potensi gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui US$150 per barel. Menurutnya, dampak kenaikan harga energi akan langsung dirasakan masyarakat.

“Kenaikan harga energi akan berimbas pada harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng, sehingga daya beli masyarakat makin tertekan,” ujarnya.

Bhenu juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari Timur Tengah. Ia menyebut sekitar 70 persen bahan baku energi Indonesia masih bergantung pada kawasan tersebut, sehingga rentan terganggu apabila konflik meningkat.

Selain minyak, Bhenu menambahkan jalur distribusi yang sama juga dilalui 24 persen amonia dunia. Jika terjadi gangguan, menurutnya, biaya pupuk dapat meningkat dan pada akhirnya ikut mendorong harga pangan.

Dari sisi kebijakan, Bhenu menilai distribusi subsidi energi saat ini belum tepat sasaran. Ia menyebut lebih dari 90 persen subsidi BBM dinikmati pemilik kendaraan pribadi, sementara angkutan umum kurang dari 5 persen.

Untuk itu, ia mendorong reformasi subsidi berbasis data digital agar penyalurannya lebih adil. “Subsidi harus diarahkan kepada nelayan, UMKM, dan masyarakat berpenghasilan rendah,” katanya.

Bhenu juga menekankan pentingnya percepatan transisi energi terbarukan serta peningkatan efisiensi energi nasional. Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil membuat kedaulatan energi menjadi rapuh.

Ia mengusulkan langkah jangka pendek, antara lain penerapan bekerja dari rumah (WFH) serta penguatan transportasi umum. “Ketahanan energi sejati adalah ketika masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kebutuhan dasar akibat gejolak global,” pungkasnya.