BERITA TERKINI
Ketergantungan Impor Bahan Baku Petrokimia Masih Jadi Tantangan Industri Plastik RI

Ketergantungan Impor Bahan Baku Petrokimia Masih Jadi Tantangan Industri Plastik RI

Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku petrokimia masih menjadi tantangan di tengah dinamika global. Saat sejumlah negara mulai mengamankan pasokan, pelaku industri dalam negeri turut mencermati ketahanan stok agar tidak terjadi gangguan produksi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan kebutuhan bahan baku utama industri plastik nasional masih besar, terutama nafta yang sepenuhnya bergantung pada impor.

“Untuk naptha kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100% impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, PVC dan lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50% masih impor,” kata Fajar kepada CNBC Indonesia, Kamis (2/4/2026).

Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran global mulai terlihat. Sejumlah negara bahkan mengalami lonjakan permintaan yang tidak biasa, yang mencerminkan meningkatnya kecemasan terhadap pasokan bahan baku.

Salah satu negara yang disebut mengalami peningkatan permintaan plastik adalah Korea Selatan. Namun, Fajar menilai situasi industri petrokimia di Korea Selatan berbeda sehingga kondisi Indonesia dinilai cenderung lebih aman.

“Korea beberapa petrokimia sudah slowdown lama sebelum perang (Timur Tengah), jadi sekarang makin susah,” ujarnya.

Pemerintah dan pelaku usaha disebut mulai membuka komunikasi dengan sejumlah negara alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah. Namun, upaya diversifikasi pasokan tersebut membawa konsekuensi berupa waktu pengiriman yang lebih panjang.

“Sudah mulai komunikasi dengan Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Yang jelas lead time lebih lama, paling cepat sekitar 50 hari,” kata Fajar.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mengapa Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut secara mandiri. Menurut Fajar, arah kebijakan energi dan industri masih menjadi faktor utama, termasuk prioritas pemanfaatan nafta untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

“Kita masih fokus terhadap BBM, naptha yang ada sekarang juga diprioritaskan untuk BBM dulu,” ujarnya.

Meski begitu, ia menilai peluang penguatan bahan baku petrokimia tetap terbuka, terutama melalui pengembangan hilirisasi berbasis sumber daya domestik.

“Seharusnya kita mulai hilirisasi batu bara atau bionaphtha dari CPO, itu yang paling memungkinkan,” kata Fajar.

Di tengah tekanan global, Fajar menilai seluruh negara saat ini berada dalam posisi yang sama, yakni berlomba mengamankan bahan baku. Pelaku industri berharap stabilitas pasokan tetap terjaga agar aktivitas produksi dalam negeri tidak terganggu.

“Semua negara sedang berusaha untuk mengamankan feedstock,” ujarnya.