Presiden Prabowo Subianto memangkas harga pupuk subsidi hingga 20% di tengah krisis pupuk global yang dipicu konflik geopolitik. Kebijakan tersebut diambil saat harga pupuk dunia, khususnya urea, dilaporkan melonjak hingga 40% dan distribusi mengalami gangguan.
Langkah penurunan harga ini disebut telah diantisipasi sejak 2025 dengan tujuan menjaga produksi pangan nasional tetap stabil. Di saat sejumlah negara menghadapi tekanan kenaikan biaya input pertanian akibat lonjakan harga pupuk, Indonesia memilih mengambil kebijakan berbeda melalui penyesuaian harga pupuk subsidi.
Namun, efektivitas kebijakan ini dalam menjaga ketahanan pangan masih menjadi pertanyaan. Di tengah ketidakpastian pasokan dan harga di pasar global, publik menanti sejauh mana penurunan harga pupuk subsidi dapat membantu petani mempertahankan produktivitas dan memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga.