BERITA TERKINI
Di Tengah Ketidakpastian Energi Global, Jambi Didorong Percepat Pembangunan Jalan Khusus Angkutan Batubara

Di Tengah Ketidakpastian Energi Global, Jambi Didorong Percepat Pembangunan Jalan Khusus Angkutan Batubara

Dunia dinilai sedang memasuki fase ketidakpastian energi yang kian nyata. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar global, disebut memicu volatilitas harga minyak di pasar internasional dan berdampak pada berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam situasi tersebut, Provinsi Jambi yang memiliki sumber daya energi dipandang berada pada posisi strategis. Namun, potensi itu dinilai baru dapat menjadi kekuatan ekonomi jika ditopang infrastruktur yang efisien, modern, dan terintegrasi. Salah satu isu yang disorot adalah percepatan pembangunan jalan khusus angkutan batubara sebagai bagian dari pembenahan sistem logistik energi di daerah.

Penulis opini, Martayadi Tajuddin, menyampaikan pandangannya sebagai pengamat kebijakan publik dan pembangunan infrastruktur bahwa jalan khusus batubara bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk transformasi ekonomi daerah. Ia menilai ketergantungan angkutan batubara pada jalan umum selama ini menimbulkan sejumlah konsekuensi, mulai dari penurunan kualitas jalan, gangguan mobilitas masyarakat, hingga meningkatnya risiko keselamatan transportasi.

Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan ketidaksesuaian struktural antara intensitas aktivitas industri ekstraktif dengan kapasitas infrastruktur publik yang tersedia. Ia berpendapat ketidakseimbangan semacam itu tidak semestinya dibiarkan berlarut-larut karena dapat menimbulkan biaya sosial yang lebih besar dibanding manfaat ekonomi yang diperoleh.

Ia juga menyoroti investasi infrastruktur logistik yang dikembangkan PT SAS. Dalam pandangannya, investasi tersebut perlu dilihat dalam kerangka pembangunan ekonomi daerah yang lebih luas, bukan semata kepentingan korporasi, melainkan juga terkait efisiensi distribusi energi, peningkatan daya saing daerah, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Dari perspektif ekonomi regional, ia menilai efisiensi sistem logistik menjadi salah satu penentu daya saing wilayah. Infrastruktur yang memperlancar distribusi barang dan komoditas strategis disebut dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat posisi daerah dalam rantai pasok ekonomi nasional maupun global. Sebaliknya, inefisiensi logistik dinilai berpotensi menjadi hambatan struktural bagi investasi.

Martayadi menambahkan, krisis energi global justru dapat membuka peluang bagi daerah penghasil sumber daya energi. Namun, peluang itu disebut hanya bisa dimanfaatkan jika didukung kebijakan infrastruktur yang adaptif dan responsif. Dalam konteks ini, jalan khusus batubara dipandang sebagai instrumen untuk memastikan sektor energi daerah dapat beroperasi lebih efisien tanpa mengganggu kepentingan publik yang lebih luas.

Lebih lanjut, ia menilai pembangunan jalan khusus batubara juga berkaitan dengan penataan ulang tata ruang dan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan. Pemisahan jalur angkutan industri dan jalan publik disebut sebagai prinsip dasar pembangunan infrastruktur modern yang menekankan efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan sosial.

Meski demikian, ia mengakui kebijakan pembangunan infrastruktur strategis tidak terlepas dari diskursus publik, termasuk kritik mengenai dampak lingkungan dan sosial. Namun, menurutnya, kritik perlu ditempatkan dalam kerangka rasionalitas kebijakan dan tidak semata menjadi penolakan terhadap agenda pembangunan jangka panjang.

Ia menegaskan percepatan pembangunan jalan khusus angkutan batubara merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat posisi Jambi dalam peta ekonomi energi nasional. Dalam kondisi global yang tidak pasti, ia menilai daerah perlu memperkuat efisiensi internal agar tetap kompetitif dalam menarik investasi.

Pada akhirnya, Martayadi menyimpulkan pembangunan infrastruktur logistik energi tidak semestinya dipandang sebagai beban, melainkan instrumen transformasi ekonomi. Ia menilai tantangan utama bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga keberanian mengambil keputusan kebijakan yang berpihak pada masa depan ekonomi daerah, sehingga percepatan jalan khusus batubara disebut sebagai langkah strategis yang tidak dapat ditunda.