BERITA TERKINI
Di KTT ASEAN ke-48, Prabowo Tekankan Ketahanan Pangan dan Solidaritas Energi Hadapi Dampak Krisis Global

Di KTT ASEAN ke-48, Prabowo Tekankan Ketahanan Pangan dan Solidaritas Energi Hadapi Dampak Krisis Global

CEBU, Filipina — Presiden RI Prabowo Subianto menuntaskan rangkaian kunjungan kerja dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, dengan membawa komitmen untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi Asia Tenggara di tengah tekanan geopolitik global.

Ketahanan pangan menjadi salah satu isu utama yang dibahas para pemimpin negara ASEAN. Situasi konflik di Timur Tengah dinilai memberi dampak langsung terhadap perekonomian negara-negara di kawasan, terutama pada sektor energi dan ketersediaan pangan.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, negara-negara ASEAN kini menyadari pentingnya membangun kekuatan bersama agar kawasan tetap stabil menghadapi ketidakpastian dunia.

“Intinya adalah respons bersama ASEAN dalam menyikapi situasi yang terjadi di Timur Tengah yang semua merasakan efek langsung terhadap kehidupan negara-negara di kawasan, khususnya di sektor ekonomi, terlebih lagi di ketersediaan pangan dan energi,” ujar Sugiono kepada awak media, Sabtu, 9 Mei 2026.

Selain pangan, ketahanan energi juga menjadi fokus pembahasan. Para pemimpin negara sepakat Asia Tenggara perlu memiliki sistem perlindungan kawasan yang lebih kuat agar tidak mudah terdampak gejolak global.

Menurut Sugiono, muncul kesadaran bersama di antara negara-negara ASEAN untuk membangun kawasan yang lebih tangguh, khususnya dalam menghadapi ancaman krisis pangan dan energi dunia.

Ia menyebut agenda tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo yang sejak awal menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menjaga kedaulatan negara.

“Ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan hal paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, termasuk negara kita,” kata Sugiono.

Dalam KTT ke-48 ASEAN, para pemimpin kawasan juga membahas langkah-langkah konkret untuk memperkuat ketahanan regional. Di antaranya penguatan kerja sama melalui ASEAN Petroleum Security Agreement serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve).

Kerja sama tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan cadangan beras di kawasan ketika terjadi gangguan global maupun krisis internasional.

Sugiono menegaskan, kondisi dunia saat ini menunjukkan konflik di kawasan lain dapat dengan cepat berdampak ke Asia Tenggara. Dampak itu, menurutnya, dirasakan masyarakat melalui tekanan harga pangan dan energi serta stabilitas ekonomi.

“Perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Dan inilah yang dirasakan oleh seluruh negara-negara ASEAN,” tutur Sugiono.