Ketidakpastian ekonomi global dinilai masih berlanjut di tengah tekanan geopolitik, volatilitas harga energi, dan inflasi yang belum sepenuhnya mereda. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 3,1% pada 2026, di bawah tren pra-pandemi.
Sementara itu, World Bank menilai tekanan di sektor energi masih menjadi risiko utama inflasi, terutama di negara berkembang, dan berpotensi menahan laju pertumbuhan global. Di tengah situasi tersebut, krisis dipandang bukan semata ancaman, melainkan momentum untuk membuka peluang dan mendorong transformasi.
Perspektif itu mengemuka dalam acara Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity yang digelar Dhanavinya di Jakarta, baru-baru ini. Ajang tersebut mempertemukan tokoh perempuan dari lintas sektor untuk membahas respons terhadap dinamika global.
Pembicara utama, Erita Yohan, menyampaikan bahwa krisis global justru membuka peluang bagi perempuan yang adaptif. Menurut dia, pergeseran pada sektor pangan sehat, kesehatan dan wellness, energi, serta ekonomi digital dinilai kian prospektif, dengan kunci utama pada kecepatan beradaptasi.
Erita, yang disebut berpengalaman menangani berbagai proyek LNG, strategi korporasi, akuisisi, dan eksekusi proyek, menuturkan keunggulan seperti kemampuan multitasking, ketelitian, dan intuisi dapat menjadi modal penting. Meski demikian, ia juga menyinggung tantangan yang masih ada, termasuk aspek kepercayaan diri dan akses.
Ia menilai kemandirian dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membangun bisnis rumahan, memanfaatkan platform digital, serta menguatkan keterampilan dan pola pikir yang adaptif. Menurutnya, disiplin dan kemauan terus belajar menjadi penentu karena mereka yang bergerak cepat dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.
Pendiri Dhanavinya, Esra Manurung, mengatakan pihaknya secara berkala mengadakan dialog dan kolaborasi untuk mengembangkan kapasitas diri, sekaligus menyediakan program mentoring, coaching, serta konsultasi bisnis. “Kolaborasi diyakini sebagai jalan untuk menciptakan dampak yang signifikan, bukan melalui persaingan,” kata Esra, didampingi dua pendiri lainnya, Lanny Sutiarto dan Ailing Yang.
Esra juga menekankan pentingnya transformasi mental melalui kemauan untuk terus belajar dari buku, seminar, dan mentor bisnis. Ia mengakui perubahan tidak selalu nyaman, namun dari proses tersebut dapat lahir pemimpin yang tangguh, visioner, dan adaptif, dengan mental yang tetap kuat meski situasi tidak ideal.
Ailing Yang menegaskan krisis global bukan untuk ditakuti, melainkan dipahami. Menurutnya, dalam setiap ketidakpastian selalu ada ruang untuk bertumbuh bagi mereka yang mampu melihat peluang dari sudut pandang berbeda. Ia menambahkan bahwa kekuatan menghadapi tekanan bersumber dari dalam diri, dengan kejelasan arah dan keberanian melangkah sebagai kunci agar krisis bisa menjadi titik awal perubahan.
Dari sisi keuangan, pebisnis sekaligus mentor kesehatan dan finansial, Lanny Sutiarto, menilai ketidakpastian global semakin menegaskan urgensi kemandirian finansial, terutama bagi perempuan. “Kemandirian bukan sekadar kemampuan menghasilkan, melainkan kecakapan mengelola keuangan secara bijak, kompetensi yang kian krusial di tengah dinamika global,” kata Lanny.
Para pembicara menilai turbulensi global bukan sekadar ujian, melainkan katalis untuk menajamkan arah. Momentum ini mendorong individu dan organisasi kembali pada esensi, nilai, visi, dan tujuan jangka panjang sebagai fondasi untuk membangun langkah yang lebih presisi, resilien, dan relevan menghadapi masa depan.