Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha merespons laporan The Economist yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang yang dinilai paling aman dari dampak krisis energi global di tengah konflik Iran melawan Israel-Amerika Serikat.
Satya menilai penilaian tersebut mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional, terutama ketika tekanan geopolitik global berpotensi mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Ia menyinggung Selat Hormuz, yang disebut dilalui sekitar 20 pasokan minyak global per hari, sebagai salah satu titik strategis yang dapat memengaruhi perdagangan minyak mentah.
“Ini sebagai bentuk keberhasilan pemerintah merespons situasi perdagangan minyak mentah, terutama yang melewati Selat Hormuz yang diblokade oleh Iran,” kata Satya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (23/3/2026).
Dalam laporan berjudul Which country is the biggest loser from the energy shock, The Economist menempatkan Indonesia dalam kategori negara dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer). Menurut Satya, pemerintah telah menyiapkan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi.
Untuk jangka pendek, ia menilai pemerintah cukup efektif mengedukasi masyarakat agar melakukan penghematan energi. Namun, ia menekankan upaya tersebut perlu terus ditingkatkan dan dilanjutkan di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Upaya menyadarkan masyarakat untuk bisa hemat energi itu mulai dari memanfaatkan kendaraan transportasi umum, kendaraan listrik, kompor listrik, konversi BBM menuju listrik ataupun BBG, hingga membatasi mobilisasi kerja dengan menerapkan work from home atau WFH,” ujarnya.
Sementara untuk jangka panjang, Satya menilai pembangunan tambahan fasilitas penyimpanan (storage) untuk cadangan BBM akan membantu menjamin ketersediaan pasokan energi bagi kebutuhan domestik. Ia juga menilai positif dorongan pemerintah untuk meningkatkan cadangan migas melalui aktivitas eksplorasi, sehingga ketergantungan terhadap impor dan dampak fluktuasi harga dapat ditekan.
Satya menekankan perlunya peningkatan aktivitas eksplorasi migas domestik. Ia menyebut produksi minyak Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari. Kondisi itu, menurutnya, menciptakan kesenjangan yang masih harus ditutup melalui impor maupun peningkatan produksi dalam negeri.
“Cadangan operasional juga harus ditingkatkan supaya coverage days-nya bisa menjadi tiga bulan. Di samping itu, pemerintah perlu juga mendorong peningkatan cadangan migas dengan aktivitas eksplorasi,” katanya.
The Economist juga menilai posisi Indonesia lebih stabil dibanding negara tetangga seperti Vietnam. Meski sama-sama berada di zona low exposure, laporan tersebut memberikan skor ketahanan (resilience score) Indonesia lebih tinggi, sementara Vietnam disebut lebih rentan terhadap gangguan rantai pasok manufaktur global.
“Ini menjadi hal positif buat kita semua,” kata Satya.
Ke depan, DEN menilai kombinasi edukasi publik, diversifikasi energi, peningkatan cadangan, serta percepatan transisi energi menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang masih berpotensi berlanjut.

