JENEWA — Delegasi muda Indonesia, Beni Pramula, memaparkan gagasan tentang konsep New Diplomacy dalam ajang Youth Future Summit (YFS) 2026 yang digelar di Mövenpick Hotel dan Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jenewa, Swiss, pada 5–8 Februari 2026.
Di hadapan ratusan delegasi dari 120 negara, Beni menyampaikan pidato kunci berjudul New Diplomacy: The Power of Youth as Bridge-Builders. Pidato tersebut disebut sebagai inti dari buku terbarunya, The Bridge-Builders’ Guide to Diplomacy for a Fragmented World.
Dalam paparannya, Beni menantang narasi lama tentang peran pemuda. Ia menilai berbagai tantangan global—mulai dari etika teknologi hingga krisis iklim—memerlukan penanganan segera. “Saya tidak melihat pemimpin masa depan di ruangan ini. Saya melihat pemimpin hari ini. Kita bukan lagi penonton sejarah, melainkan arsitek yang harus membangun jembatan di tengah dunia yang terfragmentasi,” ujar Beni, yang disambut antusias oleh para delegasi.
Gagasan yang disampaikan Beni juga menyoroti fenomena perfect disconnection, yakni kondisi ketika dunia tampak terhubung secara digital, tetapi terputus dalam pemahaman kemanusiaan. Untuk merespons situasi tersebut, ia menawarkan tiga pilar Diplomasi Baru.
Pilar pertama adalah Shared Language, yang menekankan martabat manusia di atas retorika politik. Pilar kedua, Peer-to-Peer Power, berfokus pada optimalisasi jejaring pemuda lintas negara. Sementara pilar ketiga, Radical Empathy, menekankan keberanian untuk mendengar dan memahami sebelum menghakimi.

