BERITA TERKINI
CEO Chevron Peringatkan Potensi Krisis Minyak Global Jika Selat Hormuz Terganggu

CEO Chevron Peringatkan Potensi Krisis Minyak Global Jika Selat Hormuz Terganggu

CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan dunia berisiko menghadapi krisis minyak dalam waktu dekat jika distribusi energi global di Selat Hormuz terganggu. Dalam forum Milken Institute, Wirth menekankan bahwa penutupan jalur strategis tersebut dapat berdampak besar karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas di kawasan itu.

Menurut Wirth, gangguan di Selat Hormuz akan membuat cadangan minyak global mulai terserap, sementara pasokan baru tidak cukup cepat untuk menutup kebutuhan. “Dunia akan mulai melihat kekurangan fisik minyak,” ujarnya, seperti dikutip Reuters pada Senin (4/5).

Wirth menilai Asia berpotensi menjadi kawasan yang paling awal merasakan tekanan karena ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan minyak dari wilayah Teluk. Setelah itu, dampaknya diperkirakan menjalar ke Eropa dan wilayah lain. Meski Amerika Serikat dinilai relatif lebih tahan karena berstatus eksportir minyak, ia menyebut efek lanjutan tetap akan dirasakan secara bertahap.

“Penyesuaian antara permintaan dan pasokan tidak terhindarkan, yang pada akhirnya akan menekan pertumbuhan ekonomi global,” kata Wirth.

Ia juga membandingkan situasi saat ini dengan krisis energi pada 1970-an, ketika gangguan pasokan memicu lonjakan harga dan pembatasan distribusi bahan bakar. Jika kondisi berlanjut, Wirth memperkirakan dunia dapat menghadapi kombinasi tekanan berupa kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, serta perlambatan ekonomi global.

Dalam pernyataannya, Wirth menyinggung bahwa dampak awal telah terlihat, salah satunya bangkrutnya Spirit Airlines yang dikaitkan dengan lonjakan harga bahan bakar jet.

Di sisi lain, Wirth merupakan eksekutif yang telah lama berkecimpung di industri minyak dan gas. Ia bergabung dengan Chevron sejak awal 1980-an dan menjabat CEO sejak 2018. Di bawah kepemimpinannya, Chevron disebut memperluas portofolio produksi di sejumlah wilayah strategis, termasuk Amerika Serikat dan proyek-proyek besar di luar negeri, dengan pendekatan investasi yang disiplin dan fokus pada efisiensi operasional.

Data produksi Chevron menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, produksi perusahaan tercatat sekitar 3,1 juta barel setara minyak per hari (boepd) seiring pemulihan pasca pandemi. Produksi meningkat menjadi sekitar 3,3 juta boepd pada 2024, didorong kenaikan produksi di Amerika Serikat. Pada 2025, produksi mencapai sekitar 3,7 juta boepd dan disebut sebagai rekor tertinggi, dengan puncak sekitar 4,1 juta boepd pada kuartal III 2025. Untuk 2026, produksi diperkirakan berada di kisaran 3,8–3,9 juta boepd, stabil namun sensitif terhadap dinamika geopolitik.

Produksi Chevron berasal dari sejumlah wilayah operasi utama, termasuk Amerika Utara, Kazakhstan, dan Australia. Namun, Wirth menegaskan bahwa risiko krisis energi tetap mengemuka apabila Selat Hormuz terganggu, karena dampaknya dapat memicu kekurangan pasokan minyak di pasar global meski tingkat produksi sedang tinggi.