BERITA TERKINI
Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Antisipasi Risiko Global

Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Antisipasi Risiko Global

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi kuat di tengah ancaman El Niño dan ketidakpastian global. Ia menyebut cadangan beras pemerintah telah melampaui lima juta ton, yang diklaim sebagai level tertinggi sepanjang sejarah.

Menurut Amran, besaran cadangan tersebut menjadi bantalan strategis untuk menjaga ketersediaan pangan nasional dalam berbagai skenario tekanan, baik akibat gangguan iklim maupun gejolak rantai pasokan global. Capaian ini, kata dia, merupakan hasil kebijakan produksi yang dijalankan secara konsisten, termasuk program pompanisasi, perluasan areal tanam, serta penguatan penyerapan gabah oleh Perum Bulog.

Dengan stok tersebut, pemerintah menilai Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas harga pangan domestik. Amran juga menyatakan posisi Indonesia lebih kuat dibanding sejumlah negara yang sedang menghadapi tekanan akibat krisis pupuk dan anomali cuaca.

“Inilah bukti nyata dari ketepatan visi dan keberanian Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan strategis demi kepentingan petani nasional,” kata Amran dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Mei 2026.

Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional di tengah ketidakpastian global. Melalui kebijakan yang disebut terukur dan respons cepat, petani diharapkan tetap mampu berproduksi dan menjadi pilar ketahanan pangan.

Di sisi lain, Amran menyampaikan Presiden Prabowo Subianto memutuskan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Kebijakan ini diambil saat harga pupuk global mengalami lonjakan akibat gangguan pasokan.

Amran mengatakan kebijakan tersebut mencerminkan upaya mengantisipasi potensi krisis pupuk yang mulai menekan banyak negara. “Presiden Prabowo sejak awal sudah melihat dunia menuju periode ketidakstabilan. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menunggu krisis, tetapi mengantisipasinya melalui kebijakan,” ujarnya.

Dalam keterangannya, Amran menyebut sejak Februari 2026 konflik di Timur Tengah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia. Pada saat yang sama, Tiongkok menghentikan ekspor pupuk nitrogen utama, yang disebut berdampak pada lonjakan harga urea global lebih dari 40 persen dalam hitungan minggu.

Ia menambahkan, negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor pupuk menghadapi ancaman gangguan produksi pangan. Penurunan harga 20 persen tersebut disebut mencakup seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani, termasuk urea, NPK, dan ZA.