BERITA TERKINI
Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Avtur Global, Penerbangan Asia-Eropa Tertekan

Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Avtur Global, Penerbangan Asia-Eropa Tertekan

JAKARTA — Gangguan pasokan energi akibat perang Iran mulai mengguncang industri penerbangan global. Kekurangan bahan bakar jet (avtur) mengancam kelancaran perjalanan musim panas di Asia dan Eropa setelah jalur distribusi utama dari Timur Tengah terputus akibat blokade di Selat Hormuz.

Sebelum konflik pecah, ekspor avtur dari Teluk Persia disebut menjadi salah satu sumber pasokan terbesar bagi pasar global, menurut International Energy Agency (IEA). Namun, penutupan Selat Hormuz oleh Iran memutus rute pengiriman yang selama ini krusial bagi perdagangan energi dunia.

Eropa menjadi kawasan yang paling terdampak karena sekitar 20% kebutuhan avtur di wilayah itu berasal dari Teluk Persia. Di sisi lain, tekanan juga dirasakan Asia. Sejumlah kilang di China, Korea Selatan, dan India yang selama ini memasok avtur global, masih bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

Sebelum perang, sekitar 90% ekspor minyak dari Teluk Persia menuju Asia melewati Selat Hormuz. Direktur riset komoditas Kpler, Matt Smith, mengatakan kilang-kilang di Asia mulai kesulitan memenuhi permintaan domestik maupun internasional akibat gangguan rantai pasok minyak mentah. “Ini seperti kecelakaan mobil yang terjadi dalam gerakan lambat,” kata Smith.

Data Kpler menunjukkan ekspor global avtur turun 30% menjadi 1,3 juta barel per hari pada April, dari 1,9 juta barel per hari pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, volume avtur yang dimuat ke kapal tanker merosot 50% pekan lalu menjadi 18,6 juta barel dibandingkan 37,8 juta barel pada periode yang sama 2025.

Kelangkaan pasokan turut mendorong lonjakan harga. Kepala Operasional Valero Energy, Gary Simmons, menyebut bahan bakar jet kini “sangat langka”. Di Eropa, Airports Council International Europe memperingatkan Uni Eropa dapat menghadapi “kelangkaan bahan bakar jet sistemik” apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

Kenaikan biaya bahan bakar memaksa maskapai menyesuaikan jadwal. Lufthansa dilaporkan memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober akibat tekanan biaya avtur. International Air Transport Association (IATA) mencatat harga avtur di Eropa melonjak dua kali lipat dalam setahun terakhir menjadi US$187 per barel per 1 Mei.

Komisioner Transportasi Uni Eropa, Apostolos Tzitzikostas, mengatakan hingga 21 April belum ada bukti kekurangan bahan bakar secara nyata. Namun, ia mengakui stok komersial mulai berada di bawah tekanan.

Dari sisi pelaku industri energi, CEO Chevron Mike Wirth menilai pemulihan distribusi energi global tidak akan cepat meski konflik berhenti. Menurutnya, proses normalisasi bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan karena Selat Hormuz masih perlu diperiksa dari ranjau laut, sementara ratusan kapal yang tertahan di Teluk Persia juga harus dikerahkan kembali untuk memulihkan rantai pasok.

Chief Financial Officer ConocoPhillips, Andrew O’Brien, menyebut pasar sempat memperoleh “masa tenggang” dari pengiriman minyak sebelum perang yang terjadi pada Maret dan April. Namun pasokan itu kini mulai menipis. Ia memperingatkan dampak gangguan pasokan minyak Timur Tengah terhadap ekonomi dunia akan semakin terlihat, dan sejumlah negara pengimpor energi berpotensi menghadapi krisis pasokan serius mulai Juni atau Juli.

Untuk meredam tekanan, Uni Eropa mulai mencari alternatif pasokan avtur dari Amerika Serikat. Ekspor bahan bakar jet AS ke Eropa melonjak lebih dari 400% menjadi 94.000 barel per hari pada April dibanding Februari saat perang dimulai.

Sejumlah perusahaan kilang di AS juga meningkatkan produksi. Valero menaikkan porsi produksi bahan bakar jet menjadi 30% dari total produksi distilat pada Maret, dari rata-rata normal 26%. Marathon Petroleum menambah kapasitas produksi avtur sebesar 30.000 barel per hari di kilang Garyville, Louisiana.

Meski relatif lebih terlindungi berkat produksi domestik, AS tetap menghadapi risiko gangguan, terutama di Pantai Barat yang selama ini mengandalkan impor bahan bakar jet dari Korea Selatan. Matt Smith menggambarkan situasi ini seperti efek berantai. “Ini seperti rentetan domino yang berjatuhan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dampaknya berpotensi menyebar ke berbagai produk energi lainnya.