BERITA TERKINI
Bitcoin Diuji Berulang Kali di Tengah Krisis Global, Ketegangan AS-Iran Jadi Ujian Berikutnya

Bitcoin Diuji Berulang Kali di Tengah Krisis Global, Ketegangan AS-Iran Jadi Ujian Berikutnya

Bitcoin kembali menghadapi tekanan di tengah sentimen pasar global yang cenderung menghindari risiko. Sejumlah krisis besar di masa lalu—mulai dari runtuhnya bursa kripto hingga guncangan makro seperti pandemi—berulang kali menguji ketahanan aset ini. Dengan ketidakpastian dampak ekonomi dari perang AS-Iran dan kenaikan harga minyak yang meningkatkan risiko inflasi, pasar menilai 2026 berpotensi menjadi ujian stres berikutnya bagi Bitcoin.

Bitcoin diluncurkan setelah krisis keuangan global 2008 dan diposisikan sebagai alternatif terdesentralisasi terhadap sistem keuangan berbasis perantara. Sejak itu, Bitcoin (BTC) melewati berbagai guncangan makroekonomi, termasuk crash pasar saham Tiongkok 2015–2016, kejatuhan harga minyak 2014–2016, crash pasar saat COVID-19 pada 2020, hingga krisis perbankan global pada 2023. Peristiwa-peristiwa tersebut mengguncang pasar keuangan secara luas dan turut menyeret volatilitas Bitcoin.

Di dalam industri kripto sendiri, Bitcoin juga menghadapi rangkaian krisis yang menggerus kepercayaan investor. Keruntuhan Mt. Gox pada 2014 dan peretasan Bitfinex pada 2016 menjadi dua contoh besar. Mt. Gox dilaporkan kehilangan 850.000 BTC, sementara Bitfinex kehilangan sekitar 120.000 BTC. Pada 2022, pasar kembali terpukul oleh runtuhnya Terra-LUNA dan kolapsnya bursa FTX. Meski berbagai peristiwa itu kerap memicu penurunan harga dua digit, Bitcoin berulang kali pulih dan mencetak rekor tertinggi baru pada fase-fase berikutnya.

Narasi yang kerap mengemuka dari rangkaian krisis tersebut adalah perbedaan antara protokol Bitcoin dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di atasnya. Whitepaper 2009 yang dikaitkan dengan Satoshi Nakamoto menggambarkan Bitcoin sebagai sistem uang elektronik peer-to-peer yang memungkinkan transaksi dilakukan langsung antarpihak tanpa lembaga keuangan. Dalam praktiknya, industri kripto berkembang dengan banyak perantara baru, termasuk bursa terpusat. Ketika perantara semacam itu runtuh atau diretas, protokol Bitcoin tetap berjalan, memperkuat pandangan sebagian pelaku pasar untuk “tidak mempercayai perantara, melainkan mempercayai protokol”.

Periode 2014–2015, misalnya, ditandai fase konsolidasi setelah peristiwa Mt. Gox dan sejalan dengan sentimen risk-off yang lebih luas, termasuk crash pasar saham Tiongkok dan penurunan harga minyak. Namun pada 2017, Bitcoin kemudian melonjak hingga sekitar 20.000 dolar AS dalam bull run yang mengubah persepsi pasar terhadap aset ini.

Tekanan berikutnya datang dari ledakan dan pecahnya gelembung penawaran koin awal (ICO). Setelah euforia yang dipicu sejak kemunculan Ethereum, banyak proyek ICO dilaporkan gagal akibat penipuan dan scam, memicu tekanan regulasi dan penurunan pasar. Pada Desember 2018, Bitcoin turun hingga sekitar 3.000 dolar AS dari puncak sekitar 20.000 dolar AS setahun sebelumnya. Setelah upaya pemulihan pada 2019, pandemi COVID-19 pada Februari–Maret 2020 kembali memicu aksi jual besar di pasar global, termasuk Bitcoin. Meski begitu, pada bull run 2020–2021, Bitcoin sempat melampaui 74.000 dolar AS.

Pasar kripto kembali memasuki fase berat pada 2022. Ekosistem Terra runtuh pada Mei 2022 setelah stablecoin algoritmik UST kehilangan patokan 1 dolar AS. Mekanisme mint-and-burn dengan token Luna yang dirancang untuk menjaga stabilitas tidak mampu menahan tekanan, dan depeg UST turut merusak Protokol Anchor, memicu hilangnya kepercayaan investor serta aksi jual besar-besaran. Saat pasar belum pulih, kasus FTX mencuat terkait pengelolaan dana pelanggan yang buruk oleh pendirinya, Sam Bankman-Fried. Peristiwa itu mendorong Bitcoin turun hingga sekitar 15.000 dolar AS pada akhir 2022.

Pada 2023, pemulihan jangka pendek Bitcoin juga dihadapkan pada konsolidasi di tengah krisis perbankan global, termasuk kebangkrutan Silicon Valley Bank. Meski demikian, Bitcoin kemudian mencetak kenaikan luas sepanjang 2023 hingga 2025 dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 126.199 dolar AS. Kenaikan itu dikaitkan dengan sejumlah katalis, seperti peluncuran ETF Bitcoin spot di AS, penggunaan Bitcoin sebagai perbendaharaan digital oleh perusahaan seperti Strategy dan Metaplanet, serta kejelasan regulasi pada masa kepresidenan kedua Presiden AS Donald Trump.

Namun, koreksi terbaru membuat Bitcoin turun mendekati 60.000 dolar AS pada Februari. Dalam narasi yang berkembang, ancaman tarif global serta ketegangan geopolitik akibat perang AS-Iran dan eskalasi di Timur Tengah dinilai ikut menciptakan kondisi bearish di pasar kripto.

Dari sisi karakter aset, Bitcoin kerap digambarkan sebagai aset berpasokan terbatas dengan volatilitas tinggi (high beta) yang cenderung menguat ketika likuiditas global meningkat. Dalam konteks ini, keputusan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed) disebut berkorelasi dengan pergerakan Bitcoin: pemangkasan suku bunga yang bertujuan meningkatkan likuiditas dapat mendorong permintaan terhadap BTC, sementara kebijakan sebaliknya dapat menekan minat risiko.

Di tingkat jaringan, keamanan Bitcoin ditopang oleh mekanisme proof-of-work dan hashrate—total daya komputasi untuk memvalidasi transaksi. Hashrate yang terus meningkat dipandang mencerminkan komitmen jangka panjang penambang sekaligus membuat serangan 51% lebih sulit dilakukan. Dalam skenario 51% attack, entitas yang menguasai mayoritas daya komputasi berpotensi memblokir transaksi, memengaruhi hadiah penambang, hingga melakukan double-spend.

Sementara itu, pasokan maksimum 21 juta BTC tetap menjadi fondasi narasi “emas digital”. Mengacu pada pola historis yang disebutkan, sebagian pelaku pasar menilai pemulihan berikutnya berpotensi melampaui rekor 126.199 dolar AS, seiring setiap krisis kerap diikuti peningkatan adopsi. Ada pula spekulasi bahwa Iran dapat menggunakan taktik untuk mengalihkan kawasan dari PetroDollar menuju standar PetroYuan atau PetroBitcoin, meski hal itu disampaikan sebagai asumsi.

Dengan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang masih berlangsung, Bitcoin kembali berada pada persimpangan antara tekanan jangka pendek dan narasi ketahanan jangka panjang. Sejarahnya menunjukkan bahwa krisis berulang kali menjadi ujian—dan bagi sebagian investor, juga menjadi pemicu lahirnya siklus berikutnya.