BERITA TERKINI
BI: Perbankan Nasional Tetap Kuat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

BI: Perbankan Nasional Tetap Kuat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Bank Indonesia (BI) menyatakan sektor perbankan nasional berada dalam kondisi kuat dan stabil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di Timur Tengah. BI menilai ketahanan tersebut dapat meredam potensi dampak rambatan gejolak global terhadap perekonomian Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan likuiditas perbankan saat ini terjaga dengan baik, ditopang kapasitas permodalan yang tinggi serta risiko kredit yang tetap terkendali. “Ketahanan perbankan tetap kuat sehingga diprakirakan dapat memitigasi risiko dampak dari perang Timur Tengah,” ujar Perry dalam keterangan resmi, Selasa (24/3/2026).

BI mencatat rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Januari 2026 mencapai 25,87%. Angka tersebut mencerminkan kemampuan perbankan dalam menyerap potensi risiko sekaligus mendukung penyaluran kredit.

Dari sisi kualitas kredit, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) secara agregat juga tetap rendah. NPL tercatat sebesar 2,14% secara bruto dan 0,82% secara neto, yang menunjukkan risiko gagal bayar masih berada dalam batas aman.

BI juga menyampaikan hasil stress test yang menunjukkan sektor perbankan nasional tetap resilien dalam menghadapi berbagai skenario risiko, termasuk kemungkinan dampak rambatan dari konflik geopolitik global. Ketahanan tersebut didukung kemampuan bayar korporasi yang dinilai stabil serta tingkat profitabilitas yang tetap terjaga.

Untuk mengantisipasi ketidakpastian global, BI menyatakan akan terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial dan meningkatkan sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah ini ditujukan untuk memitigasi risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan domestik.