Jakarta — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan pertumbuhan hijau bukan agenda yang berdiri sendiri, melainkan bagian tak terpisahkan dari strategi besar pertumbuhan nasional Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan hijau harus dibaca sebagai satu kesatuan yang mencakup pertumbuhan ekonomi, transisi energi, dan dinamika geopolitik global.
Pernyataan itu disampaikan Anindya—yang akrab disapa Anin—dalam sesi panel Indonesia Economic Summit (IES) Thought Leadership bertajuk “How Can Indonesia Leverage The Green Sectors to Boost Growth” di Hotel Shangri-La Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Pertumbuhan hijau pada dasarnya bukan sesuatu yang berjalan paralel, tetapi merupakan bagian dari cerita pertumbuhan nasional,” ujar Anin.
Anin menjelaskan, terdapat tiga dimensi utama dalam pertumbuhan hijau. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang mendorong investasi, perdagangan, industrialisasi, serta penciptaan lapangan kerja. Kedua, keterkaitan erat dengan agenda transisi energi. Ketiga, dimensi geopolitik yang semakin kuat dalam perekonomian global.
Dalam konteks ekonomi, Anin menilai Indonesia perlu menentukan posisi strategis dalam rantai pasok dan ekosistem global. Ia menyebut dua sektor yang berpotensi besar mendorong pertumbuhan hijau nasional, yakni elektrifikasi dan hilirisasi mineral.
Anin menyampaikan elektrifikasi menyumbang sekitar 40% peluang dalam cerita pertumbuhan hijau. Saat ini, sekitar 1,5% mobil baru yang dijual di Indonesia merupakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Meski tertinggal dibandingkan China dengan penetrasi sekitar 90% atau Eropa sekitar 60%, ia menilai tren tersebut membuka peluang terbentuknya industri dan ekosistem baru di dalam negeri.
“Ini menciptakan rangkaian industri dan ekosistem yang sama sekali baru. Banyak pelaku usaha, khususnya dari China, yang sudah membangun fasilitas produksinya di Indonesia,” kata Anin.
Selain elektrifikasi, Anin menyoroti pentingnya hilirisasi mineral kritis. Ia menekankan Indonesia bukan hanya produsen nikel dengan kontribusi sekitar 60% produksi global, tetapi juga memiliki potensi besar pada kobalt, tembaga, dan bauksit.
“Sekitar 10% produksi global komoditas tersebut berasal dari Indonesia, dengan aktivitas yang banyak berlangsung di kawasan Indonesia bagian timur, sehingga berpotensi mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Anin.
Lebih lanjut, Anin menilai pertumbuhan hijau juga berkaitan erat dengan transisi energi, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Ia menyebut dalam 25 hingga 35 tahun menuju target net zero, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 100 gigawatt listrik hanya untuk mendukung operasional pusat data.
Dalam konteks tersebut, Anin menyampaikan dukungan terhadap langkah PT PLN (Persero) yang tengah mengembangkan kapasitas pembangkit listrik hingga 75 gigawatt, dengan sekitar 75% di antaranya bersumber dari energi terbarukan.
Anin juga menyebut kebutuhan energi untuk mendukung hilirisasi mineral kritis. Menurutnya, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 500 gigawatt energi surya dalam 25 hingga 35 tahun ke depan. Ia menilai peluang itu didukung cadangan silika dan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
Dari sisi geopolitik, Anin menegaskan isu pertumbuhan hijau dan transisi energi kini menjadi arena persaingan strategis global. Ia mencontohkan, dalam forum internasional seperti Davos, APEC, dan G20, pembahasan mengenai transisi energi semakin dominan di antara negara-negara besar. Ia menilai China saat ini lebih aktif dibandingkan Amerika Serikat dalam mendorong agenda tersebut.
“Indonesia harus sangat cermat dalam memainkan perannya, sambil tetap membuka ruang kerja sama, termasuk dengan negara-negara Timur Tengah yang dapat mendukung dari sisi pendanaan,” pungkasnya.

