BERITA TERKINI
Andi Amran Sulaiman Dorong Transformasi Pertanian di Tengah Krisis Pangan Global

Andi Amran Sulaiman Dorong Transformasi Pertanian di Tengah Krisis Pangan Global

Di tengah krisis pangan global yang dipicu perubahan iklim, El Nino berkepanjangan, serta gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman disebut memainkan peran penting dalam arah kebijakan ketahanan pangan Indonesia. Dalam situasi ketika sejumlah negara menghadapi kelangkaan dan meningkatnya ketergantungan impor, pemerintah menempatkan agenda kemandirian pangan sebagai prioritas.

Menurut narasi yang berkembang, Amran menekankan perlunya Indonesia keluar dari pola ketergantungan impor dan memperkuat produksi domestik. Sejumlah langkah digambarkan sebagai upaya transformasi menyeluruh dari hulu ke hilir, dengan fokus pada peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan, serta penciptaan nilai tambah komoditas pertanian.

Salah satu strategi yang disorot adalah optimalisasi lahan dan pemanfaatan teknologi tepat guna. Kebijakan ini mencakup dorongan mekanisasi pertanian, penggunaan varietas unggul yang dinilai lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, serta evaluasi program food estate agar berfokus pada lahan yang dianggap produktif. Langkah tersebut disebut berkontribusi pada peningkatan produksi.

Selain peningkatan produksi, kebijakan hilirisasi juga menjadi perhatian. Amran mengusung gagasan agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, melainkan diolah di dalam negeri sebelum dipasarkan. Hilirisasi disebut menyasar komoditas seperti beras, jagung, serta komoditas perkebunan termasuk kakao dan kelapa sawit. Dalam target yang dinilai ambisius, nilai ekspor disebut diarahkan meningkat dari Rp20 triliun menjadi Rp2.000 triliun melalui penguatan pengolahan domestik.

Di sisi perlindungan petani, penguatan peran Bulog dan Koperasi Merah Putih disebut menjadi bagian dari strategi untuk menyerap gabah dengan harga yang menguntungkan petani. Ketersediaan pupuk serta alat mesin pertanian (alsintan) juga ditekankan agar tepat waktu. Amran digambarkan kerap turun langsung ke lapangan untuk menyerap aspirasi petani dan memastikan pelaksanaan program berjalan.

Hasil kebijakan tersebut diklaim mulai terlihat pada periode 2025–2026, ketika Indonesia disebut kembali mengumumkan status swasembada beras dan memiliki stok yang memungkinkan rencana ekspor terbatas ke negara tetangga. Pencapaian ini disebut terjadi di saat beberapa negara produsen seperti India dan Vietnam membatasi ekspor karena tekanan kebutuhan domestik.

Dalam konteks internasional, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) disebut memberikan penghargaan khusus kepada Pemerintah Indonesia atas upaya menjaga stabilitas pangan di tengah krisis iklim global. Amran juga disebut kerap diundang dalam forum internasional untuk memaparkan strategi yang disebut sebagai “Model Indonesia” dalam membangun ketahanan pangan berkelanjutan.

Dari sisi gaya kepemimpinan, Amran digambarkan tegas, cepat, dan berorientasi hasil. Ia menekankan kolaborasi lintas pihak—pemerintah, swasta, akademisi, dan petani—serta memandang isu pangan sebagai bagian dari keamanan nasional. Sikap tanpa kompromi terhadap praktik tengkulak nakal dan mafia impor juga disebut menjadi salah satu ciri kebijakannya.

Narasi yang disampaikan menilai kebijakan tersebut turut membangun fondasi jangka panjang, mulai dari infrastruktur irigasi, gudang penyimpanan, hingga industri pengolahan. Dampaknya disebut mendorong meningkatnya ketertarikan generasi muda pada sektor pertanian karena adanya kepastian pasar dan prospek kesejahteraan.

Profil dan penilaian terhadap kepemimpinan Andi Amran Sulaiman ini disusun berdasarkan rujukan pada data kinerja Kementerian Pertanian, pengakuan internasional dari FAO, serta pemberitaan media hingga Maret 2026.