Amnesty International menilai menguatnya praktik otoritarian di berbagai belahan dunia memperburuk krisis iklim global. Organisasi hak asasi manusia itu menyebut rezim otoriter pada umumnya berupaya mengonsolidasikan sumber daya untuk kepentingan segelintir orang, termasuk dalam sektor energi.
Dalam artikel yang ditulis Direktur Iklim, Ekonomi, dan Keadilan Sosial Amnesty International, Marta Schaaf, disebutkan bahwa taktik otoriter yang kian menguat—termasuk di negara-negara demokrasi—dapat memperkokoh ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ia mencontohkan Amerika Serikat sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.
Schaaf, bersama aktivis Amnesty lainnya Nazia Erum, menilai semakin banyak pemerintah menggunakan praktik otoriter untuk menguasai infrastruktur bahan bakar fosil, menyerang pakar perubahan iklim, serta mengganggu kohesi sosial yang mendorong tuntutan perubahan. Menurut keduanya, pola tersebut membentuk “lingkaran setan” berupa disinformasi, sabotase regulasi, diplomasi koersif, dan ketergantungan bahan bakar fosil yang sudah mengakar.
“Hal ini membuat transisi untuk memproduksi energi terbarukan yang berkelanjutan dan adaptasi perubahan iklim yang dapat menyelamatkan nyawa jauh lebih rentan,” tulis Schaaf dan Erum dalam artikel yang dipublikasikan di situs resmi Amnesty International pada Ahad (3/5/2026).
Dalam tulisan itu, keduanya menguraikan tiga taktik utama yang dinilai digunakan rezim otoriter untuk menekan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Taktik pertama, menurut mereka, bukan hanya mendiskreditkan gagasan para pakar, melainkan juga memanipulasi ekosistem kritik.
Amnesty mencontohkan laporan Departemen Energi Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump yang menyatakan proyeksi pemanasan global dilebih-lebihkan dan bahwa aksi iklim lebih banyak merugikan dibandingkan menguntungkan. Contoh lain disebutkan terjadi di Argentina, ketika Presiden Javier Milei dinilai menyebarkan informasi yang menyatakan perubahan iklim bukan disebabkan oleh aktivitas manusia.
Selain itu, mereka menyinggung stasiun televisi yang didukung pemerintah Rusia yang menggelar program pelatihan jurnalistik “alternatif” di Afrika untuk menyeimbangkan liputan perubahan iklim. Menurut Schaaf dan Erum, penyebaran informasi palsu merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk merusak kredibilitas ilmuwan iklim.
Amnesty juga menilai rezim otoriter dapat menyingkirkan ilmuwan, memotong anggaran institusi penelitian, membatalkan proyek-proyek iklim, serta mendukung platform dan forum yang pro bahan bakar fosil.
Taktik kedua, menurut mereka, adalah mengunci ketergantungan pada bahan bakar fosil di dalam dan luar negeri dengan mengeksploitasi ketergantungan ekonomi dan kekuatan asimetris. Schaaf mencontohkan penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pemerintah Trump yang disebut bertujuan menguasai cadangan minyak negara Amerika Latin tersebut.