JAKARTA — Shandong Yulong Petrochemical, perusahaan penyulingan baru asal China, dilaporkan meningkatkan impor minyak mentah dari Rusia meski Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan tersebut terkait pembelian minyak Rusia.
Menurut lima sumber perdagangan yang mengetahui persoalan ini, kilang Yulong yang berlokasi di provinsi Shandong memiliki kapasitas pengolahan hingga 400.000 barel per hari dan saat ini beroperasi di atas 90% kapasitas. Informasi tersebut disampaikan oleh dua sumber yang enggan disebutkan namanya karena belum dipublikasikan.
Yulong diperkirakan akan menerima 15 pengiriman minyak Rusia pada November. Mayoritas pasokan itu berupa campuran ESPO, namun juga mencakup jenis Urals dan Sokol. Total volume pengiriman tersebut setara dengan sekitar 370.000–405.000 barel per hari dan disebut berpotensi menjadi rekor pembelian minyak Rusia bulanan bagi Yulong. Sebelumnya, rata-rata impor perusahaan ini dilaporkan berada di kisaran 200.000 barel per hari.
Para sumber menambahkan, peningkatan pasokan minyak Rusia tersebut kemungkinan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Langkah Yulong memperbesar impor minyak Rusia terjadi beberapa hari setelah Inggris menetapkan perusahaan itu sebagai entitas yang terkena sanksi pada 16 Oktober. Keputusan Inggris tersebut kemudian diikuti sanksi Uni Eropa. Dampaknya, sejumlah pemasok dari Timur Tengah dan Kanada disebut membatalkan kontrak pasokan minyak mentah untuk Yulong, sehingga menimbulkan kekosongan pasokan.
Dalam laporan yang sama disebutkan, Yulong tidak segera menanggapi permintaan komentar yang dikirim melalui email.
Di sisi lain, sanksi terbaru dari Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap perdagangan minyak Rusia dilaporkan membuat importir minyak milik negara di China serta penyulingan di India menangguhkan transaksi dengan Rusia untuk sementara waktu. Kondisi ini membuat ekspor ESPO—minyak utama Rusia dari Timur Jauh—serta Urals yang dikirim dari pelabuhan Eropa Rusia, yang sebelumnya banyak dibeli India, kesulitan menemukan pembeli baru.
Dua sumber perdagangan menyebut Yulong mengambil alih beberapa pengiriman yang semula ditujukan untuk Unipec, unit perdagangan milik Sinopec, setelah Unipec menghentikan pembelian minyak Rusia karena khawatir terhadap potensi sanksi sekunder.
Yulong Petrochemical dibangun dengan investasi lebih dari US$ 20 miliar dan merupakan proyek unggulan yang sebagian dimiliki Shandong Energy Group serta didukung pemerintah provinsi setempat. Kilang ini terintegrasi dengan kompleks etilena berkapasitas 3 juta ton per tahun, sehingga menjadi salah satu fasilitas terbesar di China.

