BERITA TERKINI
Wisatawan Vietnam Cerita Pengalaman Pertama ke Rusia: Tantangan Perencanaan hingga Kejutan Salju Musim Dingin

Wisatawan Vietnam Cerita Pengalaman Pertama ke Rusia: Tantangan Perencanaan hingga Kejutan Salju Musim Dingin

Rasa ingin tahu Tran Phuong Thao terhadap Rusia berawal dari masa kecilnya di Vietnam, ketika keluarganya memiliki sejumlah barang buatan Soviet. Ibunya kerap menyebut produk-produk tersebut “sangat awet”, dan kesan itu bertahan hingga Thao dewasa.

Pada pertengahan 2025, Thao membaca informasi mengenai e-visa Rusia yang memperpanjang masa tinggal menjadi 30 hari. Kabar itu, ditambah berbagai berita perjalanan lain, mendorongnya mengambil keputusan untuk berkunjung. Thao, 31 tahun, bekerja di bidang pemasaran dan komunikasi di Hanoi. Ia merencanakan perjalanan bersama pasangannya, Giang, pada akhir 2025 hingga awal 2026—periode yang dinilai paling memungkinkan karena mereka berada di lokasi berbeda.

Libur panjang memberi kesempatan bagi keduanya untuk bepergian selama dua pekan penuh, lebih lama dari durasi 5–7 hari yang biasanya mereka lakukan. Dalam bayangan Thao, perjalanan itu identik dengan suasana Natal di tengah salju, alun-alun kota yang terang, dan pengalaman musim dingin yang belum pernah ia rasakan di negara tropis.

Namun, semakin ia mempelajari rencana perjalanan, semakin besar tantangan yang terlihat. Thao menilai perjalanan ke Rusia jauh berbeda dibandingkan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Karena sanksi, pilihan penerbangan terbatas. Ia dan Giang harus mencari di berbagai platform untuk menemukan rute yang sesuai, hingga akhirnya memilih penerbangan dengan transit di Chengdu, China.

Tantangan utama, menurut Thao, justru berada pada tahap perencanaan. Ia menggambarkan Rusia seperti “planet lain” karena pelancong perlu beradaptasi dengan sistem dan platform yang berbeda untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran, transportasi, peta, pemesanan hotel, hingga komunikasi. Selain itu, wisata ke Rusia belum populer di kalangan orang Vietnam, sehingga informasi yang tersedia dianggap terfragmentasi dan perlu diverifikasi ulang. Thao menghabiskan waktu berjam-jam mengumpulkan data dari grup perjalanan dan menyusun rute agar masuk akal.

Masalah pembayaran menjadi kendala besar. Rusia tidak menerima Visa dan Mastercard internasional, melainkan hanya kartu pembayaran domestik. Akibatnya, hal-hal sederhana seperti memesan tiket kereta, bus, atau konser menjadi lebih rumit. Thao mengaku terbantu karena memiliki teman di Rusia yang membantu berbagai kebutuhan, mulai dari kartu SIM, tiket kereta, hingga pengaturan penjemputan di bandara.

Cuaca juga menjadi perhatian serius. Karena lahir dan besar di wilayah tropis, Thao dan Giang belum pernah mengalami musim dingin bersalju. Mereka mempersiapkan perlengkapan seperti pakaian termal, sepatu bot salju, hingga penghangat tubuh.

Thao berangkat dari Hanoi ke Moskow pada 20 Desember 2025, dengan total waktu perjalanan hampir 17 jam termasuk transit. Menjelang berangkat, ia mendapat pesan dari Giang yang mengingatkan bahwa e-visa perlu dicetak berwarna—hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Dalam perjalanan menuju bandara, ia mencari informasi dan diarahkan untuk mencetak dokumen tersebut di terminal internasional. Ia akhirnya berhasil mencetak dua salinan karena loket sudah buka lebih awal.

Perjalanan itu juga menjadi pengalaman penerbangan jarak jauh pertama bagi Thao. Meski sudah menyiapkan bantal leher dan pakaian nyaman, ia mengaku tubuhnya belum terbiasa sehingga perlu sering berdiri dan berjalan untuk mengurangi kelelahan.

Saat mendarat di Bandara Sheremetyevo, Moskow, Thao merasakan campuran tak percaya dan kagum. Ia menilai suasana di sekelilingnya sangat berbeda: wajah-wajah yang familiar menghilang, alfabet Latin tak terlihat, dan lingkungan terasa asing. Bagi Thao, momen itu menegaskan bahwa ia memasuki dunia dan budaya yang berbeda.

Kejutan pertama datang ketika ia keluar dari bandara. Meski sudah berpakaian rapi, udara dingin Rusia tetap terasa menusuk, kontras dengan suhu di dalam bandara. Napas terperangkap di masker dan kacamata langsung berembun. Di tengah rasa dingin, ia juga merasakan kegembiraan saat melihat hembusan napas berubah menjadi awan kecil di udara—pemandangan yang jarang ia temui di Vietnam.

Di hari pertama, Thao menyaksikan salju menempel di mantelnya dalam waktu singkat. Ketika banyak orang bergegas menghindari dingin, ia dan Giang memilih berjalan perlahan untuk mengamati kepingan salju yang jatuh. Ia juga memperhatikan bentuk salju yang beragam, berbeda dari bayangannya selama ini.

Selama lebih dari dua minggu, Thao mengunjungi empat kota: Moskow, Saint Petersburg, Suzdal, dan Vladimir. Ia mendatangi sejumlah lokasi terkenal seperti Lapangan Merah, Katedral Kristus Sang Juru Selamat, dan Istana Musim Dingin. Namun, hal yang paling membekas baginya adalah bagaimana seni hadir dalam arsitektur, budaya, gaya hidup, dan pengalaman sehari-hari.

Di Moskow, Museum Pushkin menjadi salah satu tempat yang membuatnya terpukau. Thao menggambarkan bangunannya seperti kuil Yunani kuno. Di dalamnya, ia menemukan pameran Mesir kuno yang menampilkan mumi, lukisan dinding, serta artefak Sungai Nil berusia ribuan tahun. Ia mengaku berdiri lama dalam diam hingga hampir menangis.

Di Suzdal, museum arsitektur kayu memberi kesan seperti memasuki desa abad ke-16 hingga ke-17 yang tertutup salju. Ia menyebut suasananya damai dan seperti negeri dongeng. Rumah-rumah yang merekonstruksi kehidupan petani masa lalu menampilkan berbagai benda keseharian, seperti kompor, tempat tidur kayu, meja, dan bangku.

Pengalaman lain datang dari sistem metro Moskow. Thao mengaku sebelumnya menganggap stasiun kereta hanya tempat transit. Namun ketika memasuki stasiun Kyivskaya, ia tertegun melihat lampu gantung, mosaik, dan kolom marmer yang menurutnya lebih menyerupai istana. Ia merasa setiap stasiun menghadirkan pengalaman seperti memasuki museum yang berbeda. Pada beberapa malam, ia dan Giang bahkan menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun untuk menonton seniman jalanan tampil, merasakan musik menghangatkan suasana di tengah musim dingin.

Thao juga mewujudkan impian masa kecilnya dengan menonton balet di Rusia. Meski tidak sempat menonton “Swan Lake”, ia menonton “The Nutcracker” pada periode Natal. Ia menggambarkan pertunjukan itu penuh perubahan latar panggung, musik orkestra langsung, kostum megah, dan tarian yang dinamis. Pertunjukan tersebut berlangsung di Aula Besar Kremlin, Moskow.

Soal kuliner, Thao menilai makanan Rusia mudah diterima lidahnya: tidak terlalu berminyak dan tidak terlalu kuat rasanya. Ia menyebut satu porsi makanan khas biasanya terdiri dari salad, sup, dan hidangan utama berupa daging dengan sumber karbohidrat. Sejumlah makanan yang ia nikmati antara lain ikan herring yang direndam minyak dengan kentang rebus, keripik kentang, serta pai zucchini. Ia juga menceritakan pengalaman keliru membeli kentang tumbuk karena dikira mi instan—kesalahan kecil yang menurutnya akan selalu diingat.

Dari sisi biaya, Thao dan Giang semula memperkirakan anggaran 50 juta VND per orang. Namun, biaya keseluruhan perjalanan sekitar 45 juta VND. Ia menilai Rusia lebih terjangkau dibanding banyak destinasi di Eropa, sekaligus menawarkan pengalaman yang beragam.

Selain seni dan lanskap musim dingin, hal lain yang paling memikat bagi Thao adalah keramahan penduduk setempat. Ia mengingat sejumlah momen, mulai dari seorang perempuan yang menunjukkan arah menuju stasiun metro, tetangga lansia yang membantu membukakan pintu homestay, hingga pemilik toko yang memberinya suvenir. Pengalaman-pengalaman itu membuat perjalanannya terasa berkesan.

Thao mengakui kunjungannya baru sekali dan durasinya belum cukup lama untuk sepenuhnya memahami keindahan alam maupun masyarakat Rusia. Meski begitu, pengalaman selama dua pekan tersebut justru mendorongnya untuk kembali suatu hari nanti, termasuk untuk mencoba aktivitas seperti bermain seluncur es, berjalan di atas sungai yang membeku, atau menjelajahi destinasi yang lebih jauh.

Seusai perjalanan, Thao mulai lebih banyak berbagi cerita tentang Rusia. Ia menilai negara itu layak mendapat perhatian lebih dari wisatawan Vietnam, terlebih ketika Rusia disebut sedang mempertimbangkan penghapusan persyaratan visa untuk rombongan.