Krisis energi di Eropa dilaporkan kian memburuk seiring perang di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang disebut menyalurkan sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair global. Situasi ini memicu perbedaan sikap di dalam Uni Eropa (UE) terkait langkah yang perlu diambil untuk menjaga pasokan energi.
Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini menyerukan agar Eropa mencabut sanksi dan kembali mengimpor minyak serta gas dari Rusia. Ia menilai UE perlu memprioritaskan keamanan energi dan menyebut pelonggaran pembatasan energi sebagai langkah kunci untuk mencegah krisis ekonomi yang lebih dalam.
Pernyataan tersebut disampaikan Salvini di hadapan ribuan pendukung dalam rapat umum “Patriots for Europe” di Piazza Duomo, Milan, pada Sabtu (18/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan keamanan energi masyarakat harus ditempatkan di atas agenda politik.
Salvini juga menyinggung langkah Amerika Serikat yang disebut baru-baru ini melonggarkan batasan pada pengiriman minyak Rusia tertentu. Menurut laporan, langkah itu diambil setelah Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal musuh sebagai balasan atas serangan udara AS-Israel.
“Jika AS melakukannya, maka Brussel harus melakukan hal yang sama. Daripada menutup pabrik, sekolah, dan rumah sakit, kita harus kembali membeli gas dan minyak dari seluruh dunia, termasuk Rusia. Kita tidak sedang berperang dengan Rusia,” kata Salvini, sebagaimana dikutip dari RT.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak dunia dilaporkan telah melonjak hingga 70% sejak Februari lalu, yang dikaitkan dengan gangguan navigasi di Selat Hormuz.