BERITA TERKINI
Salvini Desak UE Pertimbangkan Kembali Pembatasan Energi Rusia, Kritik Green Deal

Salvini Desak UE Pertimbangkan Kembali Pembatasan Energi Rusia, Kritik Green Deal

Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini mendorong Uni Eropa (UE) untuk mempertimbangkan kembali kebijakan pembatasan terhadap energi Rusia, di tengah tekanan krisis energi yang dirasakan sejumlah negara anggota. Selain menyoroti isu sanksi, Salvini juga melontarkan kritik keras terhadap kebijakan lingkungan UE yang menurutnya membebani perekonomian.

Salvini menyebut kesepakatan hijau UE (Green Deal) sebagai “monster ideologis” yang dinilainya membuat masyarakat Italia menderita. Ia menilai kebijakan tersebut menghambat aktivitas ekonomi pada saat warga menghadapi kesulitan.

Dalam pernyataannya, Salvini juga menyinggung perlunya kelonggaran aturan fiskal. “Untuk mengatasi krisis energi, aturan Pakta Stabilitas harus ditangguhkan. Uang rakyat Italia harus digunakan untuk membantu warga Italia yang sedang kesulitan,” katanya.

Sikap Salvini mempertegas adanya perbedaan pandangan di internal Eropa terkait arah kebijakan energi dan sanksi. Sebelumnya, Hongaria dan Slovakia telah mengajukan gugatan hukum ke pengadilan tertinggi UE terkait rencana penghentian total gas pipa Rusia pada 2027.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico bahkan menyebut larangan impor energi tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip perjanjian Uni Eropa. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sebagian negara anggota menilai kebijakan penghentian energi Rusia berisiko menimbulkan dampak ekonomi yang besar.

Jika Italia benar-benar menekan UE untuk membuka kembali akses terhadap minyak dan gas Rusia, langkah itu berpotensi memengaruhi dinamika pasar energi global. Dalam konteks pasar yang disebut sedang tertekan akibat penutupan Selat Hormuz, kebijakan tersebut dapat dipandang sebagai faktor yang berpotensi meredakan tekanan pasokan.

Namun, dorongan untuk kembali membuka akses energi Rusia juga diperkirakan memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara UE yang berhaluan pro-Ukraina. Selain itu, jika Eropa kembali menyerap minyak Rusia, arus perdagangan minyak dunia dapat bergeser dan berpotensi berdampak pada stabilitas harga BBM domestik serta persaingan pasokan minyak mentah di pasar Asia.