BERITA TERKINI
Krisis Energi Eropa Menguat, Gangguan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Naik dan Tekan Kebijakan Diversifikasi

Krisis Energi Eropa Menguat, Gangguan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Naik dan Tekan Kebijakan Diversifikasi

Krisis energi kembali membayangi Eropa di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih dari dampak perang Rusia–Ukraina. Ketegangan baru di Timur Tengah turut memperberat tekanan, terutama ketika jalur pelayaran strategis Selat Hormuz mengalami gangguan.

Lonjakan harga energi menjadi indikator paling jelas dari memburuknya kondisi tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak global dilaporkan meningkat tajam hingga sekitar 70 persen, dipicu gangguan serius pada akses pelayaran di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global dan selama ini menjadi salah satu nadi distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melintasi jalur ini, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat memicu dampak luas pada pasar energi.

Saat ketegangan meningkat dan arus pelayaran terganggu, pasar merespons cepat. Kenaikan harga energi diikuti peningkatan biaya logistik, sementara ketidakpastian menyebar ke berbagai sektor ekonomi.

Tekanan yang terasa kuat di Eropa juga berkaitan dengan kebijakan energi Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Uni Eropa secara bertahap memberlakukan sanksi energi terhadap Moskow dengan tujuan memotong sumber pendapatan utama Rusia serta mengurangi ketergantungan strategis Eropa pada pasokan energi dari negara tersebut.

Sebelum perang, Rusia merupakan pemasok energi terbesar bagi Uni Eropa. Sekitar 40 hingga 45 persen impor gas dan seperempat kebutuhan minyak Eropa berasal dari Rusia, mencerminkan hubungan energi yang erat dan saling bergantung.

Namun, arsitektur pasokan itu berubah cepat. Uni Eropa mulai melarang impor batu bara Rusia pada 2022, dilanjutkan embargo minyak mentah melalui jalur laut pada akhir tahun yang sama, serta pembatasan produk minyak olahan pada awal 2023.

Untuk sektor gas, kebijakan dilakukan lebih bertahap. Uni Eropa tidak langsung menerapkan larangan total, tetapi menargetkan penghentian penuh ketergantungan pada gas pipa Rusia paling lambat pada 2027, sembari mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.

Langkah tersebut diperkuat dengan percepatan transisi energi, termasuk investasi dalam energi terbarukan dan diversifikasi sumber energi global. Meski demikian, strategi ini juga membawa konsekuensi biaya. Pembangunan infrastruktur baru membutuhkan waktu, sementara pasokan alternatif kerap lebih mahal dan tidak selalu stabil.

Di tengah kondisi pasar yang kembali bergejolak akibat gangguan di Selat Hormuz, kombinasi antara ketidakpastian pasokan global dan perubahan kebijakan energi pascaperang membuat tekanan terhadap Eropa kian terasa.