BERITA TERKINI
Vietnam Perkuat Kemitraan dengan Timur Tengah dan Afrika untuk Diversifikasi Pasar dan Integrasi Global

Vietnam Perkuat Kemitraan dengan Timur Tengah dan Afrika untuk Diversifikasi Pasar dan Integrasi Global

Vietnam menempatkan kawasan Timur Tengah dan Afrika sebagai mitra penting dalam strategi integrasi internasional dan diversifikasi pasar. Dengan berpegang pada arahan strategis resolusi “empat pilar”, Vietnam mendorong keterlibatan yang lebih mendalam dalam ekonomi global, memanfaatkan kekuatan nasional, sekaligus mengantisipasi tren pembangunan baru.

Timur Tengah dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat energi global dan penghubung Asia, Eropa, serta Afrika. Sementara Afrika, dengan populasi muda, sumber daya melimpah, dan pertumbuhan yang kuat, dipandang kian menonjol sebagai pusat pembangunan baru. Sejumlah negara di kawasan tersebut, terutama di Timur Tengah, juga muncul sebagai titik perhatian dalam bidang transisi energi, transformasi digital, transisi hijau, pengembangan kecerdasan buatan, dan semikonduktor.

Dalam konteks kebutuhan memperluas pasar dan memperkuat ketahanan ekonomi, Vietnam melihat kerja sama dengan kedua kawasan itu berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, peningkatan daya saing nasional, serta penguatan keamanan ekonomi. Dukungan politik dan diplomatik negara-negara Timur Tengah dan Afrika di berbagai organisasi dan forum multilateral—terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa—juga dipandang sebagai modal penting bagi Vietnam dalam proses integrasi internasional.

Sejumlah langkah diplomasi tingkat tinggi turut menandai penguatan hubungan. Presiden Luong Cuong, misalnya, menyampaikan pidato kebijakan di markas besar Liga Arab di Kairo, Mesir. Di sisi lain, Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man melakukan pertemuan dengan Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye di Dakar. Kontak-kontak semacam ini disebut menjadi bagian dari upaya memperluas kepercayaan politik dan membuka ruang kerja sama baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Vietnam dengan Timur Tengah dan Afrika dilaporkan mencatat berbagai hasil yang membentuk landasan bagi peningkatan kerja sama. Dari sisi politik-diplomasi, Vietnam telah menjalin hubungan diplomatik dengan seluruh 70 negara di kawasan tersebut. Pada 2024, Vietnam untuk pertama kalinya meningkatkan hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi Kemitraan Komprehensif—tingkat kerja sama tertinggi Vietnam dengan mitra di kawasan Timur Tengah-Afrika hingga saat ini.

Vietnam juga memperluas jejaring dengan organisasi regional seperti Uni Afrika (AU), Liga Arab (AL), dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), serta mendorong hubungan antara ASEAN dan organisasi-organisasi itu. Pertukaran delegasi tingkat tinggi, komunikasi rutin, dan komitmen para pemimpin disebut tidak hanya memperkuat kerja sama tradisional—seperti pertanian, kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan investasi—tetapi juga membuka peluang di bidang transformasi digital, pertumbuhan hijau, energi terbarukan, dan perdamaian.

Di Afrika, partisipasi Vietnam dalam operasi perdamaian PBB menjadi salah satu bentuk keterlibatan multilateral. Kehadiran personel Vietnam dengan baret biru, termasuk aktivitas membantu masyarakat setempat, disebut memperkuat citra dan kontribusi Vietnam bagi perdamaian, stabilitas, serta pembangunan.

Di bidang ekonomi, perdagangan Vietnam dengan Timur Tengah dan Afrika disebut meningkat dua kali lipat pada periode 2016–2024 dan mencapai sekitar US$34 miliar pada 2024. Meski demikian, angka tersebut dinilai masih belum sebanding dengan potensi yang ada, mengingat struktur komoditas kedua pihak dianggap saling melengkapi dan memiliki keunggulan komparatif untuk pengembangan bersama.

Kerja sama investasi juga menjadi sorotan, termasuk investasi tidak langsung melalui berbagai bentuk baru. Sejumlah perusahaan Vietnam—seperti PVN, Viettel, FPT, dan VinFast—disebut memperluas kehadiran di Timur Tengah dan Afrika sebagai bagian dari penguatan merek Vietnam di pasar internasional.

Salah satu bidang yang menonjol adalah sektor Halal, yang disebut muncul sebagai pilar kerja sama baru. Untuk pertama kalinya, Kementerian Luar Negeri memimpin penyusunan rencana induk tingkat nasional pengembangan industri Halal Vietnam hingga 2030. Pemerintah juga menyelenggarakan Konferensi Halal Internasional pertama yang dipimpin Perdana Menteri Pham Minh Chinh pada Oktober 2024, yang dipandang sebagai langkah penting untuk menghubungkan industri Halal Vietnam dengan ekosistem Halal global serta membuka peluang kerja sama, investasi, dan perdagangan dengan pasar Muslim dunia.

Selain ekonomi dan diplomasi, kerja sama budaya, olahraga, dan pertukaran antar masyarakat juga disebut terus didorong. Vietnam dan negara-negara di Timur Tengah serta Afrika memiliki tradisi persahabatan yang telah terjalin lama, termasuk dukungan satu sama lain pada masa perjuangan pembebasan nasional. Sejumlah kegiatan budaya seperti Hari Vietnam di Arab Saudi dan Afrika Selatan, Pekan Film Vietnam di Afrika, serta promosi seni bela diri tradisional dan Vovinam—yang disebut berkembang pesat di Afrika—dikemukakan sebagai contoh penguatan ikatan masyarakat.

Vietnam juga mendorong pendirian pusat budaya di kawasan tersebut, mengembangkan pariwisata Halal, dan memperluas pertukaran pelajar. Langkah-langkah ini ditujukan untuk memperkuat kerja sama yang lebih menyeluruh, dari ranah politik dan ekonomi hingga hubungan antarmasyarakat.

Ke depan, situasi Timur Tengah dan Afrika pada 2025 dan seterusnya diproyeksikan tetap kompleks, dengan peluang dan tantangan yang berjalan beriringan. Kawasan ini disebut makin menarik bagi investor dan pelaku usaha global, dengan potensi pasar luas, sumber daya melimpah, serta peran yang meningkat dalam rantai nilai global. Sejumlah strategi pembangunan regional juga tengah dipercepat, termasuk periode 2024–2033 dalam Visi 2063 Uni Afrika yang ditandai sebagai “Dekade Percepatan” untuk membangun benua yang “bersatu, makmur, dan damai”. Di Timur Tengah, berbagai strategi seperti Visi Arab Saudi 2030, Visi Kuwait 2035, dan Strategi Keamanan Regional Teluk menargetkan transformasi ekonomi, sosial, dan budaya.

Bagi Vietnam, 2025 disebut sebagai tahun penting untuk menyelesaikan implementasi target pembangunan yang ditetapkan dalam Kongres Nasional Partai Komunis Vietnam ke-13, sekaligus menjadi titik balik dalam proses integrasi internasional yang diposisikan sebagai kekuatan pendorong strategis memasuki era baru. Dalam kerangka itu, penguatan hubungan dengan Timur Tengah dan Afrika dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap mitra tradisional, sekaligus pesan kerja sama proaktif untuk membangun lingkungan yang damai, stabil, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Untuk mendorong hubungan ke tahap berikutnya, Kementerian Luar Negeri mengemukakan sejumlah arah kerja. Pertama, memperdalam hubungan politik dan diplomatik melalui pelaksanaan tiga pilar kebijakan luar negeri—diplomasi partai, diplomasi negara, dan diplomasi antar masyarakat—serta memperkuat integrasi di bidang politik, pertahanan, dan keamanan. Inisiatif seperti berbagi pengalaman pembangunan, peningkatan kapasitas tata kelola bagi negara-negara Afrika, pelatihan personel kepemimpinan dan manajemen, serta kerja sama ketahanan energi dan pangan disebut dapat memperkuat kepercayaan politik dan meningkatkan peran Vietnam di kawasan. Vietnam juga menyatakan akan memperkuat kehadiran diplomatiknya di Afrika secara bertahap.

Kedua, mendorong terobosan kerja sama ekonomi, investasi, dan perdagangan, termasuk percepatan negosiasi dan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas (FTA) baru, menarik investasi strategis, serta menyempurnakan kerangka hukum kerja sama. Dukungan kebijakan bagi dunia usaha—mulai dari penguatan kapasitas hukum hingga akses modal untuk proyek investasi di kawasan—juga dinilai diperlukan. Kerja sama di bidang baru seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, serta kecerdasan buatan turut disebut sebagai area potensial, terutama dengan negara-negara Teluk yang dinilai memiliki modal, pengalaman, dan kapasitas pengembangan pusat keuangan skala besar.

Ketiga, memperkuat kerja sama budaya, masyarakat, dan pariwisata sebagai fondasi berkelanjutan. Untuk menjawab permintaan wisata berkualitas tinggi dari Timur Tengah, khususnya kawasan Teluk, Vietnam disebut perlu membangun ekosistem produk dan layanan pariwisata yang selaras dengan standar Halal serta mempertimbangkan penunjukan lebih banyak duta pariwisata di negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Komunitas Vietnam di luar negeri, serta para ahli medis dan pendidikan Vietnam di Afrika, juga dinilai berperan sebagai jembatan penghubung antarmasyarakat.

Keempat, memperkuat koordinasi di forum multilateral dan organisasi internasional untuk mendorong tatanan politik dan ekonomi global yang lebih adil dan berkelanjutan berdasarkan hukum internasional, Piagam PBB, dan prinsip kesetaraan antar bangsa. Kerja sama ini dipandang penting untuk memperkuat suara bersama negara-negara berkembang dan membangun lingkungan internasional yang damai serta stabil.

Secara keseluruhan, hubungan Vietnam dengan Timur Tengah dan Afrika disebut bukan hanya hasil dari proses yang berkelanjutan, tetapi juga penegasan arah masa depan. Dengan penguatan diplomasi, perluasan kerja sama ekonomi, pengembangan sektor Halal, serta peningkatan pertukaran budaya dan koordinasi multilateral, Vietnam menargetkan fase baru kerja sama yang lebih mendalam dengan kawasan tersebut.