Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah berencana mengurangi pembelian minyak mentah dari negara-negara di Timur Tengah dan Afrika. Sebagai gantinya, sebagian pasokan minyak mentah akan dialihkan untuk dibeli dari Amerika Serikat (AS).
"Sebagian dari middle east dan sebagain dari beberapa negara di Afrika, itu yang akan kita kurangi. Karena kita belinya barang dari sana, paling banyak dari sana," ujar Bahlil di Istana Negara, Kamis (15/5/2025).
Meski demikian, Bahlil belum merinci volume minyak mentah yang akan dibeli dari AS. Ia mengatakan pemerintah masih menyusun formula agar rencana tersebut tetap menjaga komitmen kerja sama dengan AS tanpa mengganggu hubungan dengan negara pemasok lain.
"Semuanya ini, sekarang, kita lagi mengatur formulasinya yang baik agar kemudian komitmen kita dengan pihak Amerika juga berjalan, tapi komitmen kita dengan negara-negara lain juga tetap tidak tertanggu," tuturnya.
Bahlil menambahkan, hingga saat ini pemerintah masih bernegosiasi dengan Pemerintah AS terkait implementasi pembelian minyak mentah tersebut.
"Sampai dengan hari ini masih negosiasi kita dengan tim Amerika. Kalau sudah selesai, baru kita mulai bicara tentang strategi implementasinya," kata dia.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia telah bertemu dengan pihak Pemerintah AS untuk membahas kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Dalam pertemuan itu, pemerintah menyampaikan rencana untuk melanjutkan pembelian produk agrikultur serta meningkatkan pembelian barang modal dari AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia juga berencana meningkatkan pembelian energi dari AS, termasuk elpiji, minyak, dan bahan bakar minyak (BBM).
"Juga, Indonesia berencana untuk terus memberi produk agrikultur, antara lain gandum, soya bean, soya bean milk," ucap Airlangga dalam konferensi pers virtual, Jumat (18/4/2025).
"Dan juga Indonesia akan meningkatkan pembelian barang-barang modal dari Amerika," lanjut dia.
Airlangga menyebut pemerintah siap memfasilitasi perusahaan AS yang telah beroperasi di Indonesia melalui kemudahan perizinan dan pemberian insentif. Pemerintah juga menawarkan kerja sama terkait mineral, mempermudah impor produk dari AS, serta mendorong investasi AS di Tanah Air.

